Penjualan Ritel Inggris Anjlok 1,3 Persen pada April 2026

Penjualan Ritel Inggris Anjlok 1,3 Persen pada April 2026
Foto: Ilustrasi Penjualan Ritel Inggris Anjlok 1,3 Persen pada April 2026.

Volume penjualan ritel di Inggris merosot tajam sebesar 1,3 persen secara bulanan pada April 2026 akibat melemahnya pengeluaran konsumen di tengah konflik Iran dan lonjakan biaya energi. Data penurunan terbesar dalam hampir setahun terakhir ini dilaporkan oleh Office for National Statistics (ONS) pada Jumat (22/5/2026).

Realisasi performa ritel tersebut tercatat lebih buruk daripada proyeksi konsensus para ekonom yang memprediksi penurunan sebesar 0,6 persen, sebagaimana dilansir dari Internasional. Penurunan pasar domestik ini menjadi yang terdalam bagi Inggris sejak Mei 2025 yang kala itu sempat menyusut hingga 1,4 persen, setelah pada Maret 2026 sempat tumbuh 0,6 persen.

Pihak ONS menyatakan bahwa penurunan volume pembelian bahan bakar menjadi pemicu utama di bulan April karena masyarakat mulai menghemat pengeluaran. Pola penghematan ini terjadi tepat setelah lonjakan aksi borong bensin oleh para pengendara pada Maret 2026 akibat antisipasi kenaikan harga.

Jika dibandingkan dengan basis tahunan, volume penjualan ritel dilaporkan stagnan dan gagal memenuhi target konsensus ekonomi yang mengharapkan pertumbuhan sebesar 1,3 persen. Kondisi lesu ini diperkuat oleh sentimen dari survei pasar yang menunjukkan indeks kepercayaan konsumen Inggris hanya merosat naik tipis pada Mei 2026, di mana rumah tangga berada pada titik paling enggan untuk membeli barang elektronik atau kebutuhan besar dalam 18 bulan terakhir.

Tekanan ekonomi makro yang melanda Inggris dinilai menjadi faktor utama penahan minat belanja masyarakat di pasar ritel.

"Kekhawatiran seputar dampak konflik Iran terhadap biaya hidup, bersamaan dengan biaya hipotek yang lebih tinggi dan tekanan berkelanjutan pada keuangan rumah tangga, sangat membebani kepercayaan konsumen," kata Samuel Edwards, Kepala Manajemen Portofolio Klien Ebury.

Ketidakpastian dampak ketegangan di Iran juga dikeluhkan oleh sejumlah peritel besar Inggris karena ikut menekan performa bisnis dan minat pelanggan mereka. Selain faktor geopolitik, para pelaku usaha mengeluhkan peningkatan beban pajak serta regulasi baru yang dinilai memperlambat ekspansi komersial.

Meskipun demikian, beberapa korporasi ritel dilaporkan berhasil melawan tren penurunan pasar tersebut. Perusahaan mode Next mengumumkan perolehan penjualan kuartal pertama yang melampaui estimasi pasar, sementara ritel elektronik Currys menaikkan sedikit target proyeksi keuntungan mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi