Pengguna LRT Jabodebek Meningkat Drastis Pascakecelakaan Kereta di Bekasi

Pengguna LRT Jabodebek Meningkat Drastis Pascakecelakaan Kereta di Bekasi
Foto: Ilustrasi Pengguna LRT Jabodebek Meningkat Drastis Pascakecelakaan Kereta di Bekasi.

Sejumlah warga beralih menggunakan moda transportasi LRT Jabodebek dan Bis Kita pascakecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026). Langkah ini diambil sebagai alternatif perjalanan guna menghindari kekhawatiran dan gangguan jadwal perjalanan KRL.

Dilansir dari Ekonomi, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat lonjakan volume penumpang LRT Jabodebek yang mencapai angka tertinggi sejak mulai beroperasi. Pada Selasa (28/4/2026), total pengguna tercatat menyentuh 127.089 orang sebagai dampak langsung dari penyesuaian mobilitas masyarakat di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

Enzo, seorang pekerja swasta yang berdomisili di Bekasi, mengungkapkan bahwa dirinya memilih LRT Jabodebek untuk sementara waktu karena adanya informasi mengenai keterlambatan jadwal KRL. Selain faktor teknis, pembenahan pada aspek keselamatan menjadi sorotan utama pengguna moda transportasi berbasis rel tersebut.

"Harapannya KAI atau pemerintah bisa membenahi SOP misalnya keselamatan dan persinyalan," tuturnya kepada Bisnis, Kamis (30/4/2026).

Senada dengan hal tersebut, Fadhilah yang berprofesi sebagai guru juga beralih menggunakan Bis Kita Trans Wibawa Mukti menuju stasiun LRT. Ia merasa trauma karena insiden kecelakaan tersebut berdampak pada gerbong perempuan yang biasa ia tumpangi saat menggunakan layanan KRL.

"Sangat khawatir dan ada sedikit takut juga karena yang terdampak gerbong perempuan dan saya naik di gerbong itu kalau di KRL," ujarnya kepada Bisnis.

Fadhilah menambahkan perlunya penguatan regulasi di perlintasan sebidang guna mencegah insiden serupa terulang kembali di masa depan. Ia menyoroti pentingnya pembaharuan teknologi komunikasi otomatis untuk meminimalisir keterlambatan informasi antarpetugas persinyalan dan masinis.

"Mungkin ada teknologi yang lebih canggih agar komunikasi bisa otomatis ketika ada kendala kemarin, salah satunya kan katanya ada informasi yang tidak cepat diterima sehingga kereta Argo Bromo Anggrek enggak dapat kabar," tuturnya.

Manager of Public Relations LRT Jabodebek Radhitya Mardika menyatakan peningkatan trafik ini membuktikan peran vital LRT dalam menjaga kelancaran mobilitas warga. Lokasi stasiun yang strategis di pusat bisnis seperti Kuningan dan Rasuna Said turut mendukung tingginya angka perpindahan penumpang ini.

"LRT Jabodebek hadir sebagai bagian dari sistem transportasi yang saling terhubung. Dalam situasi penyesuaian operasional, kami berupaya memastikan masyarakat tetap memiliki alternatif perjalanan yang selamat, nyaman, andal dengan waktu tempuh yang pasti," ujarnya.

Berdasarkan data operasional, Stasiun Dukuh Atas mencatat volume tertinggi dengan 18.764 pengguna pada 28 April 2026. Diikuti oleh Stasiun Harjamukti sebanyak 13.308 orang dan Stasiun Jatimulya yang menjadi titik integrasi utama bagi warga Bekasi dengan catatan 10.067 penumpang.

Artikel terkait

Rekomendasi