Kelangkaan bahan bakar avtur akibat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memicu gangguan besar pada industri penerbangan komersial di seluruh dunia. Dilansir dari Detik Finance, kondisi ini memaksa maskapai membatalkan ribuan jadwal terbang atau menaikkan harga tiket secara signifikan.
Meski demikian, situasi sulit tersebut tidak menghentikan aktivitas terbang para orang kaya. Penggunaan jet pribadi justru tercatat mengalami lonjakan tajam di tengah krisis energi global yang sedang berlangsung.
Berdasarkan data perusahaan pemantau penerbangan WINGX Advance, frekuensi terbang jet pribadi secara global naik 4,7 persen sepanjang tahun hingga 19 April 2026. Peningkatan ini terutama terjadi pada rute-rute di luar kawasan Timur Tengah yang masih dilanda konflik bersenjata.
Di wilayah Amerika Serikat, pertumbuhan aktivitas jet pribadi bahkan jauh lebih tinggi. Kota-kota besar seperti Washington DC dan Houston mencatatkan kenaikan penggunaan jet pribadi hingga mencapai angka 17 persen.
Lonjakan di AS tersebut dipicu oleh kurangnya personel otoritas keamanan transportasi (TSA) di bandara komersial. Kelangkaan staf terjadi akibat kebijakan pembekuan gaji setelah banyaknya pembatalan penerbangan oleh maskapai komersial reguler.
"Selain Timur Tengah, industri jet pribadi global tidak terpengaruh oleh kenaikan biaya bahan bakar. Bahkan, penerbangan jet pribadi global meningkat 4,7% sepanjang tahun hingga 19 April,"Kata analis WINGX Advance, Nick Koscinski. Terhambatnya pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk menjadi penyebab utama krisis ini setelah pecahnya perang dan blokade di Selat Hormuz.
Wilayah perairan strategis tersebut merupakan jalur bagi sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia. Akibat penutupan jalur tersebut, volume pengiriman bahan bakar jet global merosot ke titik terendah dalam sejarah.
Tercatat hanya sekitar 2,3 juta ton bahan bakar jet dan minyak tanah yang diangkut kapal dalam sepekan hingga 26 April. Jumlah ini tidak sampai separuh dari volume mingguan rata-rata sebelum konflik bersenjata terjadi.
Badan Energi Internasional bahkan telah mengeluarkan peringatan keras bagi kawasan Eropa. Benua tersebut diprediksi dapat kehabisan stok bahan bakar pesawat hanya dalam hitungan beberapa minggu ke depan.
Krisis pasokan ini membuat harga bahan bakar jenis Jet A1 melonjak hampir dua kali lipat sejak awal Januari 2026. Kenaikan ini sangat berdampak karena komponen bahan bakar menyumbang sekitar 30 persen dari total biaya operasional pesawat.
"Jadi, biaya ini signifikan. Kesan kami adalah bahwa kenaikan biaya sebagian besar telah diteruskan ke pengguna akhir. Karena aktivitas penerbangan jet pribadi meningkat tahun ini dibandingkan tahun lalu, jelas permintaan tampaknya tidak elastis setidaknya untuk saat ini,"Ujar analis WINGX Advance lainnya, Richard Koe. Fenomena ini memperlihatkan jurang pemisah yang semakin lebar antara kelompok ultra-kaya dengan masyarakat umum.
Para pemilik modal besar dapat dengan mudah berpindah tempat menggunakan fasilitas mewah meski biaya operasional melambung. Sementara itu, masyarakat yang mengandalkan penerbangan komersial harus menghadapi kendala jadwal dan harga tiket yang tidak terjangkau.