Pengelolaan Perpustakaan Mini di Taman Jakarta Belum Optimal

Pengelolaan Perpustakaan Mini di Taman Jakarta Belum Optimal
Foto: Ilustrasi Pengelolaan Perpustakaan Mini di Taman Jakarta Belum Optimal.

Fasilitas perpustakaan mini yang tersebar di sejumlah taman kota Jakarta belum sepenuhnya memenuhi harapan sebagai sarana literasi yang mudah diakses. Berdasarkan pengamatan yang dilansir dari Megapolitan pada Kamis (23/4/2026), fasilitas ini masih sepi peminat di beberapa lokasi strategis.

Kondisi di Tebet Eco Park, Taman Suropati, dan Taman Menteng menunjukkan bahwa keberadaan perpustakaan tersebut belum mampu menarik perhatian pengunjung secara signifikan. Pengelolaan yang kurang optimal menjadi salah satu faktor utama penyebab minimnya pemanfaatan fasilitas tersebut.

Rianti (21), salah seorang pengunjung di Taman Suropati, menekankan bahwa aspek manajemen menjadi kunci penting agar perpustakaan mini tidak sekadar menjadi ornamen taman. Ia menyarankan adanya pemantauan berkala untuk menjaga kualitas koleksi bacaan.

"Harusnya ada pengecekan rutin, mungkin seminggu sekali atau dua minggu sekali, untuk memastikan buku masih layak," ujar Rianti.

Ia menambahkan bahwa sistem pengelolaan yang baik seharusnya mampu mengatasi tantangan di ruang terbuka, termasuk risiko kerusakan akibat faktor cuaca maupun potensi kehilangan buku.

"Kalau pengelolaannya serius, saya rasa fasilitas ini bisa benar-benar bermanfaat, bukan sekadar pajangan," tutur Rianti.

Kebutuhan akan koleksi yang lebih spesifik disuarakan oleh Rida (34) saat ditemui di Taman Menteng. Ia berharap pengelola lebih fokus menyediakan buku cerita berwarna yang menarik dan berkualitas bagi anak-anak.

"Menurut saya, kalau targetnya anak-anak, harus disediakan buku cerita yang berwarna dan kondisinya bagus," kata Rida.

Selain koleksi, Rida juga menyoroti masalah aksesibilitas fisik perangkat perpustakaan tersebut. Menurutnya, mekanisme pembukaan kotak buku yang rumit dapat menyurutkan minat anak-anak untuk mengeksplorasi bacaan.

"Kalau dikunci atau susah dibuka, anak-anak pasti tidak mau mencoba," ucap Rida.

Sementara itu, pengunjung lain bernama Isa (40) mengusulkan skema pengelolaan yang lebih terorganisir dengan melibatkan partisipasi publik. Ia mendorong adanya kolaborasi aktif dengan pihak luar untuk menghidupkan suasana literasi.

"Menurut saya, bisa dipikirkan sistem yang lebih terstruktur, misalnya kerja sama dengan komunitas atau relawan," ujar Isa.

Menanggapi evaluasi tersebut, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, menjelaskan bahwa pengembangan fasilitas ini dilakukan secara bertahap. Koleksi yang ada diklaim telah mencakup berbagai rentang usia.

"Kami menyediakan koleksi buku konvensional yang disesuaikan dengan segmentasi pemustaka mulai dari anak-anak, remaja, hingga keluarga," kata Nasruddin.

Pihak dinas juga mulai memperkenalkan pojok baca digital sebagai langkah inovasi untuk memperluas jangkauan literasi masyarakat. Nasruddin menegaskan komitmennya untuk menjadikan taman sebagai ruang belajar bersama melalui kerja sama dengan komunitas dan BUMD.

"Kami ingin melengkapi taman selain sebagai ruang hijau, juga ruang belajar bersama tempat literasi tumbuh melalui kolaborasi," ujar Nasruddin.

Di sisi operasional, pengelola Tebet Eco Park bernama Kamil mengakui bahwa meskipun masih aktif, jumlah pengguna perpustakaan mini cenderung rendah. Petugas taman dikerahkan setiap hari untuk merapikan dan membersihkan buku dari debu.

"Sistem pengelolaan dan perawatan kita setiap hari memantau buku-buku tersebut. Dicek kembali apakah setelah dibaca tidak dibereskan atau diletakkan sembarangan, nanti kita susun kembali," kata Kamil.

Kamil menilai tantangan sesungguhnya terletak pada upaya mengedukasi masyarakat agar memiliki kebiasaan membaca yang kuat. Pihaknya sedang mempertimbangkan pembaruan desain dan layanan agar lebih interaktif.

"Inovasi mungkin dari bentuk atau desain perpustakaan mini, dan mungkin juga ada perpustakaan digital untuk mempermudah dan lebih simpel untuk ruang gerak membaca bagi pengunjung," tutur Kamil.

Artikel terkait

Rekomendasi