Pasar ponsel global mencatatkan penurunan pengapalan sebesar 4,1 persen pada kuartal pertama tahun 2026 akibat krisis pasokan memori dunia yang mengganggu distribusi perangkat ke konsumen. Berdasarkan laporan firma riset International Data Corporation (IDC) pada Kamis (16/4/2026), total perangkat yang dikirimkan hanya mencapai 289,7 juta unit.
Kondisi ini menjadi periode pertama pertumbuhan negatif pasar ponsel sejak tahun 2023, sebagaimana dilansir dari Detik iNET. Selain masalah pasokan, kenaikan biaya bahan baku komponen lainnya turut memaksa sejumlah produsen untuk mengerek harga jual perangkat mereka di pasar internasional.
Research Director for Mobile Phones IDC, Anthony Scarsella, menilai bahwa kemerosotan angka pengapalan ini merupakan tahap awal dari situasi pasar yang diprediksi akan semakin sulit ke depannya. Kenaikan harga komponen menjadi faktor penentu utama bagi daya beli masyarakat.
"Pasar negara maju seperti AS yang fokus pada model premium dan dengan insentif seperti tukar tambah dan pembiayaan tidak terlalu rentang terhadap dampak keseluruhan dari kenaikan harga," kata Anthony Scarsella, Research Director for Mobile Phones IDC.
Scarsella menambahkan bahwa tantangan lebih berat akan dihadapi oleh segmen pasar menengah ke bawah di negara berkembang. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pilihan perangkat terjangkau akibat lonjakan harga komponen produksi.
"Namun, pasar negara berkembang yang fokus pada perangkat di bawah USD 200 akan menawarkan sedikit pilihan kepada konsumen karena kenaikan harga komponen memori yang akan menjadi tantang lebih besar dibandingkan pandemi lima tahun yang lalu," sambung Anthony Scarsella, Research Director for Mobile Phones IDC.
Meskipun pasar melemah, Samsung tetap mengamankan posisi sebagai vendor nomor satu dengan mengapalkan 62,8 juta unit dan menguasai 21,7 persen pangsa pasar. Keberhasilan perusahaan asal Korea Selatan ini didorong oleh permintaan tinggi Galaxy S26 Ultra serta peluncuran seri Galaxy A57 dan A37.
Apple menempati urutan kedua dengan volume pengapalan mencapai 61,1 juta unit atau sekitar 19,6 persen pangsa pasar global. Performa Apple ditopang oleh seri iPhone 17 yang mendapatkan sambutan positif dari konsumen, khususnya melalui pertumbuhan signifikan di wilayah China.
Berdasarkan data laporan tersebut, hanya Samsung dan Apple yang berhasil menjaga pertumbuhan positif di tengah tekanan krisis. Sebaliknya, Xiaomi yang berada di posisi ketiga mengalami penurunan tajam menjadi 33,8 juta unit, berkurang sekitar 8 juta unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Posisi lima besar ditutup oleh Oppo dan Vivo yang masing-masing mengapalkan 30,7 juta unit dan 21,2 juta unit perangkat. Analis memprediksi gejolak harga jual rata-rata akan terus terjadi hingga kondisi pasokan memori stabil yang diperkirakan baru akan terealisasi pada paruh kedua tahun 2027.