PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) mengantongi pendapatan sebesar Rp1,38 triliun pada kuartal I 2026 berkat penguatan kinerja operasional dan kenaikan volume penjualan. Capaian positif ini diumumkan pada Minggu (3/5/2026) di Jakarta, yang didukung oleh kondisi harga minyak sawit mentah atau CPO yang kondusif.
Pertumbuhan pendapatan tersebut dipicu oleh peningkatan volume penjualan dari 77.700 ton menjadi 85.000 ton, atau naik sebesar 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dilansir dari Money, perusahaan juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp446 miliar serta pertumbuhan laba bersih mencapai dua digit melalui disiplin operasional.
Direktur Utama BWPT, Henderi Djunaidi menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari strategi perusahaan dalam menjaga produktivitas. Beliau menekankan pentingnya inovasi dalam memberikan nilai tambah di tengah dinamika industri sawit saat ini.
"Fokus kami adalah memperkuat produktivitas dan efisiensi, serta memastikan inovasi yang dikembangkan mampu memberikan nilai tambah yang nyata. ESG telah menjadi bagian integral dari strategi pertumbuhan kami," sebut Henderi Djunaidi, Direktur Utama PT Eagle High Plantations Tbk.
Manajemen juga memberikan perhatian khusus pada aspek sosial melalui kemitraan dengan ribuan petani di sekitar wilayah operasional. Upaya ini dilakukan guna memperkuat ekosistem bisnis perusahaan yang berkelanjutan.
"Selain itu, Perseroan juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional melalui kerjasama dengan kurang lebih 7.000 petani plasma dalam program plasma mandiri," tambah Henderi Djunaidi, Direktur Utama PT Eagle High Plantations Tbk.
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, BWPT memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Salah satu entitas anak, PT Adhyaksa Dharma Satya, telah memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) pada 20 April 2026 lalu.
Sertifikasi terbaru ini melengkapi status keberlanjutan perusahaan, di mana kini sekitar 70 persen pabrik milik perseroan telah mengantongi sertifikasi RSPO. Selain itu, BWPT menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat strategi hilirisasi melalui pengembangan inovasi berbasis biomasa.
Kerja sama tersebut mencakup pemanfaatan teknologi bio-pyrolysis untuk mengolah limbah kelapa sawit dan plastik menjadi bio-oil. Langkah inovatif ini juga mencakup pengembangan Green Carbon Black sebagai bahan baku ramah lingkungan yang diproyeksikan menambah peluang pendapatan dari produk turunan bernilai tinggi.