Aliran modal untuk perusahaan rintisan di Indonesia pada 2026 diproyeksikan tetap berjalan melalui seleksi ketat yang memprioritaskan aspek profitabilitas dan disiplin pengelolaan bisnis. Tren pendanaan saat ini dilaporkan lebih banyak menyasar perusahaan tahap akhir atau later stage dibandingkan tahap awal.
Kondisi pasar modal ventura tersebut dipengaruhi oleh pergeseran minat investor yang kini lebih menekankan pada keberlanjutan arus kas. Penegasan mengenai fenomena ini disampaikan langsung oleh Komisaris Utama PT Amartha Mikro Fintek, Rudiantara, pada Jumat (23/1/2026) di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Investortrust.
"Investor ngejar startup yang prospeknya jelas untuk EBITDA atau net profit dan sudah tidak bermasalah dengan cash flow," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut menjelaskan bahwa kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed akan menjadi faktor krusial bagi dinamika investasi global. Namun, tantangan terbesar bagi ekosistem dalam negeri bukan terletak pada potensi pasar, melainkan pada pemulihan kepercayaan pemodal.
"Ini bukan soal market, tapi soal governansi. Investor bertanya, ini ada apa dengan Indonesia?" katanya.
Menurut Rudiantara, perusahaan rintisan yang menargetkan pencatatan saham di bursa wajib mengadopsi prinsip transparansi dan akuntabilitas yang setara dengan perusahaan terbuka. Penerapan struktur pengawasan seperti komite audit dinilai krusial untuk mendeteksi risiko operasional secara dini agar tidak memicu kekhawatiran bagi investor asing.
Meskipun pintu keluar investasi atau exit market melalui akuisisi maupun penawaran umum perdana masih terbatas, daya tarik pasar domestik tetap kuat pada sektor retail baru. Sektor layanan digital non-platform pun tercatat masih mampu menarik minat investasi hingga ratusan juta dolar AS berkat potensi pasar jangka panjang di Indonesia.