Wakil Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ronald A Sinaga, menjadi korban pemukulan oleh dua orang pria saat mendampingi audiensi karyawan di kantor firma hukum MPP, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (4/5/2026). Insiden kekerasan ini terjadi di tengah upaya mediasi terkait persoalan gaji karyawan PT SKS yang diduga belum dibayarkan.
Dilansir dari Megapolitan, peristiwa tersebut bermula ketika Ronald mendatangi lokasi untuk membantu proses mediasi karena mengenal pimpinan kantor hukum tersebut. Ronald menyebut kehadirannya bertujuan untuk memastikan hak para pekerja segera terpenuhi oleh pihak firma hukum selaku penasihat hukum perusahaan tersebut.
"Mendampingi untuk persoalan gaji karyawan dan pertanggungjawaban uang perusahaan PT SKS sebesar Rp 9 miliar," ujar Ronald, Waketum PSI.
Keterangan medis menunjukkan Ronald menderita luka pada bagian pelipis mata akibat serangan tersebut. Ia sempat menjalani penanganan medis di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebelum melanjutkan proses hukum atas tindakan kekerasan yang dialaminya.
"(Gaji) Tidak terbayarkan. Antara tertahan atau bagaimana kita belum tahu pasti karena belum ada klarifikasi dari mereka (MPP)," jelas Ronald, Waketum PSI.
Ronald menjelaskan bahwa ia bersedia membantu proses ini karena memiliki hubungan profesional di masa lalu dengan pihak pimpinan kantor hukum tersebut. Keterlibatan dirinya diharapkan dapat mempermudah komunikasi antara karyawan dan pihak manajemen firma hukum.
"Kenapa ajak saya? Karena pimpinan kantor hukum MPP ini adalah mantan partner saya tahun lalu. Dan saya diminta bantu mediasi," kata Ronald, Waketum PSI.
Ketegangan mulai memuncak sekitar pukul 18.00 WIB ketika sekelompok orang tidak dikenal muncul di lokasi audiensi. Kelompok tersebut mengklaim sebagai petugas pengamanan kantor dan memaksa massa untuk membubarkan diri dari area gedung.
"Mereka bilang mereka di situ sebagai pengamanan kantor dan meminta untuk semua keluar dari gedung. Kalau mau aksi, di luar gedung saja," ucap Ronald, Waketum PSI.
Meski sempat dipukul mundur oleh petugas kepolisian yang berjaga, ketiga pria tersebut dilaporkan kembali ke lantai 4 gedung. Ronald menyayangkan aksi kekerasan yang dilakukan secara terbuka di hadapan aparat keamanan yang sedang bertugas.
"Di pukul mundur maksudnya dikawal turun melalui lift, entah diusir atau dikawal sampai lobby gedung," kata Ronald, Waketum PSI.
Pemukulan terjadi hanya dalam hitungan detik setelah para pelaku kembali ke lokasi mediasi. Ronald menduga adanya unsur kesengajaan dari para pelaku untuk memicu keributan meskipun situasi awal sempat kondusif.
"Terjadilah pemukulan seperti di video," tutur Ronald, Waketum PSI.
Kekerasan ini dilaporkan terjadi tepat di depan mata petugas Polsek Menteng dan anggota Babinsa yang sedang mengawal jalannya audiensi. Hal ini memicu kecaman karena para pelaku dianggap tidak menghormati keberadaan otoritas keamanan di lokasi.
"Di depan anggota Polsek Menteng dan Babinsa, mereka berani melakukan kekerasan," kata Ronald, Waketum PSI.
Kapolsek Menteng, AKBP Braiel Arnold Rondonuwu, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi dari korban. Kepolisian juga telah mengantarkan korban untuk melakukan visum sebagai kelengkapan alat bukti penyidikan.
"Pak Ronald sudah membuat laporan Polisi," ujar AKBP Braiel Arnold Rondonuwu, Kapolsek Menteng.
Penyidik telah mengamankan dua terduga pelaku berinisial MRB dan RO untuk dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Selain itu, kepolisian telah meminta keterangan dari Ronald serta dua orang saksi lainnya yang berada di tempat kejadian perkara.
"Terduga pelaku sebanyak dua orang sudah kami amankan di Polsek untuk diproses lanjut," kata AKBP Braiel Arnold Rondonuwu, Kapolsek Menteng.
Berdasarkan keterangan kepolisian, situasi awalnya berjalan tertib sebelum munculnya kelompok yang melakukan intimidasi. Petugas di lapangan segera bertindak melerai perselisihan untuk mencegah dampak yang lebih luas.
"Sampai dengan muncul sekelompok orang yang tidak dikenal dan tanpa alasan yang jelas melakukan intimidasi dan menghalang-halangi proses audiensi," jelas AKBP Braiel Arnold Rondonuwu, Kapolsek Menteng.
Hingga saat ini, kedua pelaku masih berada di Polsek Metro Menteng untuk menjalani proses hukum lebih lanjut terkait dugaan penganiayaan tersebut.