Seorang pemuda asal Tuban, Jawa Timur, bernama Edi Utomo, menjadi sorotan di media sosial setelah mengungkapkan perjuangannya melawan penyakit gagal ginjal kronis stadium 5 yang dideritanya sejak usia 21 tahun. Dilansir dari Detik Health, pria yang kini menginjak usia 26 tahun tersebut telah menjalani vonis medis ini sejak tahun 2019 silam.
Kondisi kesehatan Edi memburuk secara bertahap sebelum akhirnya ia dinyatakan harus menjalani perawatan rutin. Penurunan fungsi ginjal yang dialaminya diduga dipicu oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi yang tidak terdeteksi sejak dini.
"Awal kena di tahun 2019," ungkap Edi.
Edi menceritakan bahwa sebelum diagnosis medis keluar, ia sempat merasakan gejala fisik yang tidak biasa namun sering dianggap remeh. Salah satu tanda awal yang ia rasakan adalah sensitivitas tubuh terhadap hembusan angin dari perangkat elektronik di rumahnya.
"Sekitar 2-3 bulan dari yang kayak berasa meriang, ini tenaga juga habis, beda kayak biasanya," katanya.
Setelah mengalami kelelahan yang luar biasa, gejala lain mulai muncul yang menyerupai gangguan pencernaan ringan. Edi mengakui sempat salah mengidentifikasi gejala tersebut sebagai tanda masuk angin atau masalah lambung biasa.
"Terus selang 3 bulanan, aku pulang ya itu muncul rasa mual muntah. Mual muntah sama kayak orang mau masuk angin gitu. Mau muntah, tapi nggak keluar muntahnya," sambungnya.
Kondisi fisik Edi akhirnya benar-benar menurun hingga ia tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara normal. Saat dilarikan ke rumah sakit di daerah asalnya, barulah diketahui bahwa tekanan darahnya mencapai angka yang sangat ekstrem.
"Aku udah drop banget nggak kuat ngapa-ngapain. Aku dibawa ke RS di daerah tempatku, jadi baru ketahuan kalau aku sakit gagal ginjal kronis udah langsung stage 5," ungkap Edi.
Menurut penjelasannya, hipertensi yang dialami rata-rata tidak menunjukkan gejala awal yang spesifik sehingga pasien seringkali terlambat menyadari kerusakannya. Ia diwajibkan melakukan prosedur medis rutin karena kondisi ginjalnya sudah tidak lagi berfungsi.
"Tensi udah tinggi banget di 200-an, langsung stage 5 harus wajib cuci darah. Dan kalau gagal ginjal kronis karena hipertensi rata-rata nggak ada gejala, langsung drop gitu aja," ceritanya.
Sejak tahun 2019, Edi rutin menjalani prosedur cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu. Jika dikalkulasi secara total, ia memperkirakan sudah melewati prosedur hemodialisis tersebut sebanyak hampir 700 kali.
Edi menduga pola makannya di masa lalu menjadi faktor pemicu hipertensi yang berakhir pada kerusakan ginjal. Ia mengaku terbiasa mengonsumsi mi instan hampir setiap hari, bahkan sering kali lebih dari satu bungkus dalam sekali makan.
Melalui pengalamannya, Edi memberikan peringatan kepada masyarakat luas untuk lebih peka terhadap sinyal-sinyal yang diberikan oleh tubuh. Pemeriksaan medis sedini mungkin sangat penting untuk memastikan apakah gejala yang dialami merujuk pada gangguan organ tertentu.