Pemerintah Provinsi Lampung menawarkan berbagai peluang investasi strategis kepada pengusaha yang tergabung dalam Realestat Indonesia (REI) untuk mengembangkan kawasan Kota Baru Bandar Negara seluas 5.308 hektar. Penawaran tersebut disampaikan pada Forum Bisnis di Bandar Lampung, Kamis (7/5/2026), sebagai upaya percepatan pembangunan daerah.
Dilansir dari Kompas, proyek ambisius bernama Kota Baru Bandar Negara (KBN) ini dirancang dengan konsep kota ramah lingkungan atau eco-city. Selain fokus pada keberlanjutan, kawasan tersebut diproyeksikan sebagai zona bebas banjir guna menjamin keamanan investasi jangka panjang bagi para pengembang properti.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk menjalin kemitraan strategis dengan para anggota REI. Langkah ini diambil guna mengoptimalkan potensi lahan di wilayahnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
"Pemprov Lampung siap berkolaborasi dengan REI. Kami membawa banyak peluang yang bisa dikerja samakan di Lampung dengan bapak dan ibu semua," ujar Mirza.
Pemerintah daerah tidak hanya memfokuskan penawaran pada KBN, tetapi juga pada lahan strategis lainnya untuk pusat perdagangan, hospitalitas, hingga kota tepi air (waterfront city). Wilayah potensial tersebut mencakup area Bakauheni, Natar, hingga kawasan sekitar Bandara Radin Inten.
Lokasi Lampung yang menjadi pintu masuk utama Pulau Sumatera dinilai memberikan keunggulan kompetitif bagi sektor logistik dan industri. Infrastruktur pendukung seperti Jalan Tol Trans-Sumatera dan pelabuhan internasional memperkuat daya tarik wilayah ini.
"Didukung Jalan Tol Trans-Sumatera, Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Bakauheni dan pengembangan Bandara Radin Inten tahap 2, maka Lampung memiliki peran besar untuk tumbuh sebagai pusat ekonomi baru di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)," kata Mirza.
Pemprov Lampung berkomitmen mempermudah proses administrasi bagi para investor yang berminat menanamkan modalnya. Hal ini dianggap krusial mengingat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Lampung yang terbatas sebesar Rp 10 triliun.
"Untuk mendorong masuknya investasi kemari (kesini), maka kami membuka ruang kerja sama yang seluas-luasnya kepada pengusaha dan berkomitmen memberikan perizinan yang mudah dan cepat," tegas Mirza.
Ketua Umum DPP REI, Joko Suranto, menanggapi positif tawaran tersebut dan menyebut Lampung sebagai wilayah yang sangat prospektif. Sektor perhotelan, resor, dan pergudangan menjadi bidang yang paling dilirik oleh para pengembang nasional.
"Pengembang anggota REI itu bergerak di berbagai subsektor dari residensial, kawasan komersial, pusat belanja, perkantoran, perhotelan dan resort serta kawasan industri dan pergudangan. Tentunya terbuka kerja sama di berbagai sub-sektor properti," ujar Joko.
REI mengharapkan adanya koordinasi khusus dari pihak pemerintah provinsi guna menyediakan informasi yang transparan dan mudah diakses. Dukungan penuh dari kepala daerah dianggap menjadi sinyal positif bagi iklim usaha di Lampung.
"Kami sangat senang support (dukungan) dari Pak Gubernur Lampung, karena semangatnya dalam menarik investasi masuk, hangat sekali dan ini bagus bagi pelaku usaha," tandas Joko.