Arus kunjungan diplomatik ke Beijing kembali meningkat tajam setelah para pemimpin dunia sempat absen selama beberapa tahun terakhir. Ketidakpastian arah kebijakan Amerika Serikat memicu banyak negara untuk membuka kembali komunikasi ekonomi dengan China.
Dilansir dari Investortrust, langkah para pemimpin dunia menemui Presiden Xi Jinping ini bertujuan untuk mengamankan berbagai kesepakatan bisnis strategis. Agenda utama mencakup investasi besar hingga negosiasi penurunan tarif dagang antarnegara.
Setidaknya lima pemimpin negara telah mendarat di Beijing sepanjang Januari 2026, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney. Selain itu, Presiden Uruguay Yamand├║ Orsi dijadwalkan melakukan kunjungan serupa pada pekan mendatang.
Kunjungan dari Kanada dan Inggris ini menjadi yang pertama dalam kurun waktu delapan tahun terakhir. Sementara itu, kehadiran Perdana Menteri Irlandia pada 5 Januari lalu menandai kunjungan kenegaraan pertama dari negara tersebut dalam 14 tahun.
Kepala ekonom di Economist Intelligence Unit, Yue Su, memberikan pandangannya terkait fenomena ini kepada CNBC.
"Kunjungan-kunjungan ini mencerminkan reset yang terkelola dan selektif di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan AS, bukan pergeseran strategis menuju China," kata Yue Su.
Ia menambahkan bahwa menjaga jalur komunikasi dengan Beijing saat ini dianggap lebih menguntungkan daripada melakukan pemutusan hubungan secara total. Hal ini diperkuat dengan kebijakan AS yang dinilai semakin sulit untuk diprediksi oleh para mitra dagangnya.
Selama 12 bulan terakhir, Donald Trump telah menerapkan tarif yang tidak hanya menyasar China, tetapi juga mitra dagang AS lainnya. Trump juga terus memperluas pengaruh politik dan ekonomi AS di wilayah Greenland, Iran, hingga Venezuela.
Profesor studi internasional di Universitas Renmin China, Cui Shoujun, menilai situasi ini sebagai peluang bagi Beijing. Menurutnya, negara-negara yang menjaga jarak dari Amerika Serikat menunjukkan apresiasi mereka terhadap kekuatan ekonomi China yang sangat besar.
Cui Shoujun menjelaskan bahwa meskipun negara-negara Eropa mungkin tetap berpihak pada AS dalam hal keamanan, mereka kini lebih aktif meningkatkan keterlibatan ekonomi dengan China demi stabilitas domestik.
Setiap kunjungan kenegaraan ke China hampir selalu disertai dengan delegasi bisnis dalam jumlah besar. Saat kunjungan PM Inggris misalnya, sekitar 60 perusahaan dan organisasi budaya mengirimkan perwakilan mereka untuk menjajaki peluang di pasar Tiongkok.
AstraZeneca, raksasa farmasi asal Inggris, mengumumkan rencana investasi fantastis senilai US$15 miliar di China yang diproyeksikan hingga tahun 2030. Langkah ini menegaskan daya tarik pasar konsumen China bagi perusahaan global.
Dalam pertemuan dengan Mark Carney, Kanada menyetujui pemangkasan tarif mobil listrik asal China menjadi 6,1 persen dari sebelumnya 100 persen. Sebagai imbalannya, Beijing memberikan kelonggaran tarif bagi produk benih kanola yang diimpor dari Kanada.
Pemerintah China juga mendorong negara-negara tamu untuk memberikan iklim usaha yang adil bagi perusahaan mereka di luar negeri. Hal ini krusial mengingat produsen otomotif listrik China tengah mempercepat ekspansi global akibat perlambatan pertumbuhan di dalam negeri.
Tantangan Keseimbangan Antara AS dan China
Meskipun hubungan dengan Beijing menghangat, posisi AS sebagai mitra dagang utama bagi banyak negara tetap tidak tergantikan. PDB gabungan lima negara yang berkunjung pada Januari hanya mencapai US$8,71 triliun, jauh di bawah PDB AS yang mencapai US$28,75 triliun.
Ketegangan antara dua kekuatan ekonomi dunia ini tetap menjadi faktor penentu. China tercatat sebagai ekonomi besar pertama yang membalas tarif "Liberation Day" dari Trump pada April 2025 sebelum akhirnya mencapai gencatan dagang sementara.
Ketua AmCham China, James Zimmerman, berharap agar Donald Trump dan Xi Jinping dapat menciptakan visi stabilitas global yang lebih konkret. Keduanya diprediksi akan bertemu hingga empat kali pada tahun ini, termasuk dalam forum APEC.
Keseimbangan ini sangat sensitif mengingat Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif 100 persen terhadap Kanada jika negara itu membuat kesepakatan dengan China. Ia bahkan menyebut kerja sama antara Inggris dan China sebagai langkah yang sangat berbahaya.
Analis kebijakan luar negeri di China Macro Group, Jack Lee, menyebut rangkaian kunjungan ini sebagai strategi lindung nilai bagi negara-negara tersebut.
"Mereka menjaga jalur China tetap terbuka untuk mempertahankan opsi strategis," kata Jack Lee.
Namun, ia memberikan catatan bahwa tingkat kepercayaan antara negara-negara Barat, terutama Uni Eropa, dengan Beijing masih berada pada level yang terbatas meskipun ada peningkatan aktivitas diplomasi.