PEMIMPIN baru Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), diharap mampu mengelola kemitraan strategis. Khususnya, dengan pemerintah.
"Mampu mengelola kemitraan supaya bisa berdampak pada usahawan kelas menengah bawah untuk berkembang, dan itu berdampak pada ekonomi rakyat," kata Direktur Eksekutif lembaga survei dan konsultan Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).
Menurut Dedi, kontestasi menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Hipmi, mesti mampu menggambarkan gagasan kemitraan strategis. Jangan sampai, kontestasi berubah menjadi ajang paling dekat dengan kekuasaan.
"Seharusnya adu gagasan lebih diutamakan, karena kekuasaan sudah cukup solid," kata Dedi.
Hipmi ke depan, kata Dedi, harus mampu memutus anggapan masyarakat, bahwa nahkoda merupakan sosok yang dekat dengan kekuasaan. Sebab, peran mereka sangat dibutuhkan masyarakat.
Dedi melihat organisasi usahawan tak seharusnya berlindung di balik beking kekuasaan. Sebab, hal itu menjadikan pertumbuhan ekonomi bagi pelaku usaha hanya terdistribusi di lingkungan yang kecil.
"Hipmi seharusnya berada di pihak publik," kata Dedi.
Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, melihat Hipmi ke depan harus menjadi 'mitra tanding' pemerintah. Terutama, dalam membuat kebijakan.
"Tidak hanya 'oke' terhadap pemerintah. Pengusaha muda ini juga harus diisi pengusaha yang kritis terhadap kebijakan pemerintah," kata Nailul Huda.
Menurut Nailul Huda, Hipmi harus berada di tengah-tengah. Sehingga, bisa tetap objektif menjalankan peran, termasuk memberi warna sebagai perwakilan anak muda.
"Jangan sampai afiliasi kepada pemerintah terlampau kuat, sehingga menghilangkan sisi kritis kaum muda," kata Nailul.
Nailul melihat kondisi itu sangat ideal untuk menjalankan sinergi. Sehingga, Hipmi dapat melaksanakan peran sebagai mitra strategs pemerintah.
"Sinergi ini bisa dilakukan asalkan masih dalam koridor bisnis dan pemerintahan," kata Nailul Huda.
Kompetisi menuju Munas XVIII Hipmi semakin memanas. Munas rencananya digelar di Provinsi Lampung pada 10 Juni 2026. Agenda utamanya adalah memilih Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) HIPMI yang baru untuk masa bakti 2026-2029.
Sebanyak empat calon menjadi kontestan dalam Munas XVIII Hipmi. Calon nomor urut pertama yakni Reynaldo Bryan, sementara itu calon nomor urut kedua adalah Ade Jonan Prasetyo, kemudian calon nomor urut tiga adalah Afifuddin Suhaeli Kalla, dan calon keempat adalah Anthony Leong. (H-2)