Pemesanan Hotel Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat Alami Penurunan

Pemesanan Hotel Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat Alami Penurunan
Foto: Ilustrasi Pemesanan Hotel Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat Alami Penurunan.

Sektor perhotelan di Amerika Serikat melaporkan penurunan minat wisatawan mancanegara untuk menginap selama gelaran Piala Dunia 2026 pada Jumat (8/5/2026). Fenomena ini memicu kekhawatiran pelaku industri mengenai potensi kegagalan pencapaian target lonjakan ekonomi yang telah diproyeksikan sebelumnya.

Dilansir dari Detik Travel, laporan American Hotel & Lodging Association (AHLA) mengungkapkan bahwa hampir 80 persen operator hotel di sembilan dari 11 kota tuan rumah mencatat tingkat pemesanan kamar masih berada di bawah ekspektasi awal. Padahal, data menunjukkan lebih dari lima juta tiket pertandingan sudah laku terjual kepada penonton.

Hambatan seperti durasi pengurusan visa yang lama, ketatnya pemeriksaan imigrasi, hingga tingginya nilai tukar dolar AS menjadi faktor utama kelesuan ini. Selain itu, kenaikan harga tiket pesawat dan ketegangan geopolitik global turut memengaruhi keputusan turis internasional untuk berkunjung.

Berdasarkan data New York Post, rata-rata pengeluaran wisatawan asing mencapai 5.048 USD atau sekitar Rp 87 juta per orang. Jumlah tersebut tercatat 1,7 kali lebih besar dibandingkan pengeluaran turis internasional pada periode biasa.

Pihak asosiasi menyoroti adanya ketidaksesuaian antara jumlah penjualan tiket dan realisasi pemesanan akomodasi oleh pengunjung internasional.

"Indikator menunjukkan dampak ekonomi yang diharapkan kemungkinan tidak akan sesuai ekspektasi. Meski lebih dari lima juta tiket sudah terjual, hal itu belum berujung pada tingginya pemesanan hotel," tulis laporan tersebut.

Laporan yang sama memaparkan profil pengunjung saat ini yang lebih banyak didominasi oleh pergerakan wisatawan domestik daripada pendatang lintas negara.

"Wisatawan domestik kini mendominasi dibanding wisatawan internasional. Ketimpangan ini mengancam dampak ekonomi besar yang sebelumnya diharapkan dari Piala Dunia," lanjut laporan itu.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan optimisme yang sebelumnya disampaikan oleh otoritas pemerintah pusat mengenai potensi keuntungan finansial dari turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Piala Dunia 2026 diperkirakan memberi dampak ekonomi hingga 30 miliar USD (Rp 520 triliun) dan menciptakan hampir 200 ribu lapangan kerja. Trump juga memastikan pemerintahannya akan mempermudah suporter sepakbola dari berbagai negara untuk masuk ke AS.

Meskipun terdapat komitmen kemudahan akses, AHLA berpendapat bahwa calon pengunjung justru merasa birokrasi masuk ke wilayah Amerika Serikat menjadi lebih pelik.

"Bagi banyak wisatawan Piala Dunia, perjalanan ke AS kini terasa jauh dari sambutan karpet merah. Ada persepsi wisatawan mancanegara akan menghadapi antrean visa panjang, biaya visa yang meningkat, dan ketidakpastian proses masuk," sebut laporan itu.

Data wilayah menunjukkan tren pemesanan yang beragam di berbagai titik lokasi penyelenggaraan. Kota Atlanta dan Miami masih memiliki tingkat pemesanan yang stabil, namun Boston, Philadelphia, San Francisco, dan Seattle mengalami defisit pemesanan dibandingkan target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Penurunan ini menjadi risiko bagi pengelola hotel yang telah mengalokasikan investasi besar untuk fasilitas penunjang. Upaya persiapan tersebut mencakup pembangunan area khusus penggemar, perekrutan staf multibahasa, hingga penguatan sistem keamanan dan moda transportasi di sekitar lokasi penginapan.

Artikel terkait

Rekomendasi