Pemerintah Perkuat KEK demi Turunkan Rasio ICOR Nasional ke Level 4

Pemerintah Perkuat KEK demi Turunkan Rasio ICOR Nasional ke Level 4
Foto: Ilustrasi Pemerintah Perkuat KEK demi Turunkan Rasio ICOR Nasional ke Level 4.

Pemerintah Indonesia menargetkan penurunan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) nasional dari posisi 6,5 menuju level 4 melalui optimalisasi fungsi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada Selasa, 9 Desember 2025 di Jakarta. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi modal dan daya saing investasi di tanah air.

Penguatan peran KEK diproyeksikan mampu menekan inefisiensi biaya karena kawasan ini memiliki nilai ICOR yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional, yakni berada di kisaran 2 hingga 4. Penurunan rasio ini dianggap krusial agar setiap modal yang masuk memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang lebih signifikan, sebagaimana dilansir dari Investortrust.

Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian, Elen Setiadi, menjelaskan bahwa Indonesia telah mengoperasikan 25 KEK yang berfungsi sebagai area prototipe. Kawasan tersebut dilengkapi dengan prosedur perizinan sederhana serta insentif fiskal dan non-fiskal yang kompetitif bagi para pelaku usaha.

"Masing-masing KEK didukung oleh infrastruktur terintegrasi dan didesain untuk mendorong produktivitas, efektivitas, dan kepastian bagi para investor," jelas Elen Setiadi, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian.

Pemerintah memandang efektivitas kawasan ini menjadi indikator bahwa KEK layak menjadi destinasi investasi dengan tingkat pengembalian yang tinggi. Melalui skema tersebut, ekspansi ekonomi diharapkan berjalan jauh lebih efisien di masa mendatang.

"Pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan daya saing untuk KEK dan Indonesia secara keseluruhan," tegas Elen Setiadi, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, mengonfirmasi bahwa besarnya nilai ICOR saat ini masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian nasional. Pihaknya berupaya melakukan konsolidasi investasi untuk menekan angka tersebut seminimal mungkin.

"Itu memang salah satu permasalahan di negara kita. ICOR kita masih besar, masih di angka sekitar 6,4ÔÇô6,5. Kita harus go to maximum 5," ujar Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM.

Todotua menambahkan bahwa strategi penguatan dilakukan melalui penyederhanaan layanan perizinan dan peningkatan proteksi terhadap pemodal. Fokus utama pemerintah adalah memastikan realisasi penerapan ICOR di dalam kawasan dapat turun secara signifikan seiring masuknya arus modal.

"Harapannya dengan investasi masuk di Kawasan Ekonomi Khusus, realisasi dari penerapan ICOR-nya juga bisa signifikan turun," imbuh Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya telah memberikan catatan mengenai durasi pencapaian target efisiensi ini. Penurunan indeks ICOR dinilai memerlukan proses yang berkelanjutan dan tidak dapat terwujud dalam waktu singkat.

"Perlu program lebih panjang karan ICOR kan terkait investasi jadi enggak bisa instan. Jadi dalam ICOR ke 4 itu target kita dalam 3ÔÇö4 tahun ke depan," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian.

Artikel terkait

Rekomendasi