Pemerintah Indonesia berencana menerbitkan instrumen utang Panda Bond di pasar China sementara Bank Indonesia memangkas batas pembelian dolar AS menjadi 25.000 dolar. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyentuh level 17.445 per dolar AS pada Selasa, 5 Mei 2026.
Dilansir dari Suara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penerbitan obligasi dalam mata uang selain dolar AS merupakan upaya memperkuat nilai tukar nasional. Diversifikasi mata uang melalui pasar China dianggap menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang Amerika Serikat tersebut.
"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam Panda Bond di China," katanya di Istana Merdeka, Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).
Menteri Keuangan menambahkan bahwa surat utang ini diproyeksikan memiliki tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan instrumen serupa lainnya. Penggunaan Panda Bond diharapkan mampu memperbaiki struktur diversifikasi pembiayaan negara di masa mendatang.
"Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan," lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik menunjukkan tren positif meskipun terdapat guncangan global. Ia menyampaikan pesan khusus dari Presiden terkait kondisi likuiditas negara saat ini.
"Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya, suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak. Jadi Anda enggak usah takut," jelasnya.
Di sisi otoritas moneter, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengambil kebijakan untuk memperketat pengawasan transaksi valuta asing. BI memutuskan menurunkan ambang batas pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung yang sebelumnya berada di angka 50.000 dolar AS per bulan.
ÔÇ£Kami sedang mempersiapkan untuk menurunkannya lebih lanjut menjadi US$25.000. Dengan demikian, setiap pembelian dolar AS di atas angka tersebut wajib melampirkan dokumen underlying,ÔÇØ tegas Perry.
Kebijakan ini bertujuan memastikan bahwa setiap transaksi valas didasari oleh kebutuhan ekonomi riil, seperti invoice impor, bukan untuk spekulasi. Perry menilai posisi Rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 melampaui ekspektasi.
Data perdagangan menunjukkan Rupiah ditutup melemah ke posisi 17.424 per dolar AS pada Selasa lalu, turun 30 poin dari posisi sebelumnya. Guna menjaga stabilitas, BI meningkatkan intensitas monitoring terhadap perbankan serta bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan dalam pengawasan lapangan.