Pemerintah Tekan Impor Minyak Mentah Lewat Penerapan Biodiesel B50

Pemerintah Tekan Impor Minyak Mentah Lewat Penerapan Biodiesel B50
Foto: Ilustrasi Pemerintah Tekan Impor Minyak Mentah Lewat Penerapan Biodiesel B50.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah coba ditekan oleh pemerintah melalui percepatan pemanfaatan energi alternatif non-fosil. Kebijakan ini diambil lantaran produksi siap jual atau lifting migas nasional masih belum mampu mencukupi kebutuhan bahan bakar minyak domestik, seperti dilansir dari Otomotif pada Kamis (21/5/2026).

Konsumsi komoditas tersebut di dalam negeri saat ini menyentuh angka 1,6 juta barel per hari (bpd). Padahal, realisasi produksi siap jual minyak bumi pada tahun lalu baru menyentuh 605.000 bpd, dan target dalam APBN 2026 dipatok pada angka 610.000 bpd.

Langkah strategis yang kini diakselerasi adalah mencampur bahan bakar minyak jenis solar dengan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Setelah pelaksanaan program campuran 40 persen berjalan, pemerintah bersiap meningkatkan kadar campuran tersebut menjadi 50 persen atau B50 pada pertengahan tahun ini.

"Target APBN 2026 itu 610.000 barel per day, dan sekarang masih rata-rata di bawah 600.000 barel per day. Artinya secara kalkulasi, kita membutuhkan impor sekitar 1 juta barel per day," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI saat membuka IPA Convention and Exhibition 2026.

Melalui substitusi bahan bakar nabati tersebut, volume impor minyak mentah diproyeksikan bisa berkurang secara signifikan. Pemerintah meyakini kebutuhan pasokan dari luar negeri dapat diredam hingga menyisakan sekitar 600.000 sampai 700.000 bpd saja.

"Dari 1 juta barel per day yang harus kita impor, sebagian bisa tersubstitusi lewat B40, dan mulai 1 Juli nanti kita dorong ke B50. Konversinya ke CPO diperkirakan sekitar 200.000 sampai 300.000 barel per day," kata Bahlil Lahadalia.

Pemenuhan kebutuhan solar standar umum untuk masyarakat, baik yang bersubsidi maupun nonsubsidi, saat ini diklaim sudah sepenuhnya diproduksi secara mandiri di dalam negeri. Pembelian dari luar negeri kini hanya berlaku bagi bahan bakar diesel yang memiliki spesifikasi mutu tinggi.

"Untuk solar dengan standar umum, kita sudah bisa penuhi sendiri. Kecuali solar berkualitas tinggi seperti C51 atau C48," ujarnya Bahlil Lahadalia.

Di samping persoalan produksi domestik, gejolak geopolitik di tingkat global seperti konflik Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina turut menghadirkan tantangan besar berupa proteksionisme ekonomi di berbagai negara. Namun, perekonomian domestik tercatat masih tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama tahun ini dengan tingkat inflasi yang terjaga di angka 2,41 persen.

"Ini menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara G20," kata Bahlil Lahadalia.

Artikel terkait

Rekomendasi