Pemerintah bersama badan usaha energi didesak untuk mempercepat pemanfaatan potensi sumber daya domestik guna memutus ketergantungan pada impor energi di tengah lonjakan kebutuhan nasional. Langkah strategis ini diperlukan seiring dengan pertumbuhan penduduk dan ekspansi ekonomi yang terus meningkat.
Kemandirian energi dinilai menjadi kunci utama stabilitas nasional dalam menghadapi ketidakpastian global saat ini. Ketergantungan terhadap pasokan luar negeri membuat ketahanan energi nasional rentan terhadap fluktuasi ekonomi global.
Pakar transisi energi sekaligus Senior Fellow SC UPER, Retno Gumilang Dewi, menyampaikan pandangan tersebut dalam diskusi bertajuk "Peningkatan Ketahanan dan Transisi Energi Nasional Melalui Transformasi Strategis Pertamina" di Jakarta pada Selasa (19/5/2026), seperti dilansir dari Media Indonesia.
"Aspek yang akan menjadikan pasokan energi kita stabil adalah memanfaatkan kekayaan milik kita sendiri. Dengan memanfaatkannya, kita tidak akan terdampak oleh krisis geopolitik seperti yang terjadi saat ini," ujar Retno Gumilang Dewi, Pakar Transisi Energi dan Senior Fellow SC UPER.
Menurut Retno, persoalan energi global saat ini telah bergeser dari masalah pasokan menjadi instrumen geopolitik krusial yang diperebutkan banyak negara. Indonesia diproyeksikan mengalami pertumbuhan konsumsi energi final sebesar 2,2 persen sampai 2,6 persen per tahun yang didominasi sektor industri serta transportasi.
Selain itu, penyediaan energi primer diperkirakan tumbuh 2,5 persen hingga 2,9 persen per tahun melalui optimalisasi sumber daya domestik dan teknologi rendah karbon. Peta jalan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 dirancang dalam tiga tahapan, mulai dari stabilisasi ketahanan energi pada 2025ÔÇô2030, percepatan energi bersih pada 2030ÔÇô2040, hingga dekarbonisasi mendalam pada 2040ÔÇô2060.
Retno mengingatkan bahwa proses peralihan menuju energi bersih ini tidak dapat dilakukan secara mendadak karena energi fosil masih memegang peran vital selama masa transisi.
"Jika perpindahan energi dilakukan mendadak, dampaknya akan sangat besar terhadap ekonomi dan masyarakat. Transisi harus dilakukan bertahap dengan tetap mengutamakan ketahanan energi," tegas Retno Gumilang Dewi, Pakar Transisi Energi dan Senior Fellow SC UPER.
Sektor transportasi menjadi sorotan utama karena merupakan konsumen Bahan Bakar Minyak terbesar. Guna mengatasi tantangan tersebut, pemerintah disarankan memperkuat ekosistem kendaraan listrik, memperluas penggunaan gas untuk transportasi massal, serta mengembangkan bahan bakar rendah emisi secara konsisten.
Diskusi strategis mengenai ketahanan energi ini juga dihadiri oleh Sekretaris Jenderal DEN Dadan Kusdiana, Direktur Pembinaan Program Migas Kementerian ESDM Hendra Gunawan, serta jajaran direksi dan komisaris Pertamina termasuk Oki Muraza, Raden Adjeng Sondaryani, dan Agung Wicaksono. Hadir pula Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro dan pengamat hulu migas Benny Lubiantara.