Pemerintah Matangkan Rencana Penyediaan CNG Pengganti LPG 3 Kilogram

Pemerintah Matangkan Rencana Penyediaan CNG Pengganti LPG 3 Kilogram
Foto: Ilustrasi Pemerintah Matangkan Rencana Penyediaan CNG Pengganti LPG 3 Kilogram.

Pemerintah terus mematangkan rencana penyediaan Compressed Natural Gas atau CNG sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas atau LPG. Langkah ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, pemerintah saat ini tengah bersiap melakukan uji coba terhadap tabung CNG ukuran 3 kilogram yang ditujukan bagi masyarakat, dikutip dari Industri.

Bahlil menjelaskan, pemanfaatan CNG untuk sektor komersial sebenarnya sudah mulai berjalan di lapangan. Penggunaan tersebut diterapkan pada tabung berukuran 12 kilogram hingga 20 kilogram untuk kebutuhan hotel, restoran, hingga mendukung program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

"Ya, seperti saya laporkan pertama, menyangkut dengan CNG, ya. Itu untuk 12 kilo sama 20 kilo lebihnya kan sudah jalan. Di hotel-hotel, restoran, di MBG itu sudah jalan. Tapi kan kita lagi melakukan uji coba terhadap tabung yang 3 kilogram untuk rakyat," ujar Bahlil Lahadalia di Istana Negara, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.

Menurut Bahlil Lahadalia, implementasi CNG untuk kebutuhan rumah tangga dengan ukuran tabung kecil memerlukan perhatian khusus dari sisi keamanan. Hal ini disebabkan tekanan gas pada tabung CNG 3 kilogram tergolong sangat tinggi sehingga harus melalui serangkaian pengujian ketat sebelum dapat dipasarkan secara luas.

"Nah, 3 kilogram ini daya tekanannya kan besar. 250 bar. Jadi ini harus dicek dulu," tutur Bahlil Lahadalia.

Pemerintah pun akan melakukan pengujian baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahlil Lahadalia menyebut langkah tersebut diperlukan karena fasilitas produksi infrastruktur tabung CNG saat ini masih berada di China.

"Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China. Dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia, ya," kata Bahlil Lahadalia.

Artikel terkait

Rekomendasi