Anak Tiri Diduga Bunuh Ibu di Rumah Kontrakan Curug Tangerang

Anak Tiri Diduga Bunuh Ibu di Rumah Kontrakan Curug Tangerang
Foto: Ilustrasi Anak Tiri Diduga Bunuh Ibu di Rumah Kontrakan Curug Tangerang.

Seorang perempuan berinisial W (46) ditemukan meninggal dunia dengan kondisi berlumuran darah di sebuah rumah kontrakan di Kampung Babakan, Binong, Curug, Kabupaten Tangerang, pada Jumat (17/4/2026) sore. Peristiwa tragis ini diketahui pertama kali oleh suami korban sekitar pukul 17.30 WIB saat ia baru kembali dari tempat kerja.

Kematian korban dikonfirmasi oleh pihak kepolisian sebagai tindakan kriminal. Dilansir dari Megapolitan, Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, AKP Wira Graha Setiawan, mengungkapkan bahwa dugaan kuat mengarah pada keterlibatan anggota keluarga korban sendiri dalam kasus ini.

"Telah terjadi pembunuhan seorang wanita yang dilakukan oleh anak tirinya sendiri," kata Wira.

Penyidik telah mendatangi lokasi kejadian untuk mengumpulkan bukti-bukti pendukung. Polisi juga telah memintai keterangan dari sejumlah orang yang dianggap mengetahui situasi di lingkungan tersebut.

"Olah TKP sudah kami lakukan dan kami telah memeriksa beberapa saksi, termasuk suami korban," ujarnya.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku yang melarikan diri. Petugas mengklaim telah mengantongi identitas jelas dari sosok yang diduga melakukan pembunuhan tersebut.

"Kami fokus untuk segera menangkap pelaku," ucap Wira.

Ketua RT 01/006, Satiri (52), memberikan keterangan mengenai situasi saat suami korban, Jumri, pertama kali menemukan jasad istrinya. Menurut Satiri, Jumri merasa curiga karena tidak mendapatkan sambutan rutin seperti biasanya saat tiba di rumah.

"Sekitar jam setengah enam sore. Dia kan baru pulang kerja, langsung ke kontrakan," ujar Satiri.

Jumri sempat menunggu beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam hunian mereka. Kecurigaan muncul karena rutinitas korban yang biasanya menyiapkan minuman hangat terhenti secara tiba-tiba.

"Setelah dia mondar-mandir, dia merasa heran kok tidak ada yang menyediakan kopi. Lalu dia buka pintu, dan keadaan korban sudah seperti itu," kata Satiri.

Segera setelah melihat kondisi istrinya, Jumri melaporkan kejadian itu kepada pemilik kontrakan yang kemudian diteruskan kepada Ketua RT. Satiri mengaku langsung menuju lokasi untuk memastikan keamanan tempat kejadian perkara sebelum petugas kepolisian tiba.

"Saya langsung ke TKP, memfoto lokasi dan minta bantuan ke tetangga, tapi jangan terlalu mendekat dengan korban. Saya lapor ke Binamas," ujarnya.

Aparat dari Kepolisian Sektor setempat dan Polres Tangerang Selatan baru mencapai lokasi kejadian beberapa saat setelah matahari terbenam. Proses identifikasi awal dan sterilisasi area dilakukan dengan memasang pembatas polisi.

"Kalau Pak Binamas sebelum Magrib sudah datang. Polisi datang sekitar jam 18.30 sampai 19.00 WIB," kata Satiri.

Pemilik kontrakan, Shinta (45), memberikan kesaksian bahwa pada awalnya suami korban menganggap istrinya hanya sedang beristirahat di dalam kamar. Namun, kecurigaan menguat setelah korban tidak memberikan respons saat dipanggil berulang kali.

"Dipanggil enggak bangun, dipanggil dua kali enggak bangun. Tapi posisinya mukanya ditutup sarung. Pas dibuka, sudah berdarah semua," ujarnya.

Situasi di lingkungan tersebut berubah menjadi kepanikan setelah Jumri menyadari istrinya telah meninggal dengan cara yang tidak wajar. Ia segera keluar rumah untuk mencari pertolongan kepada warga yang berada di sekitar kontrakan.

"Dia teriak minta tolong warga, terus bilang sambil teriak ÔÇÿistri saya kenapaÔÇÖ, begitu," kata Shinta.

Pihak kepolisian menyatakan bahwa proses penyelidikan masih terus berjalan intensif di bawah penanganan Polres Tangerang Selatan untuk mengungkap motif di balik aksi pembunuhan ini.

Artikel terkait

Rekomendasi