Pembiayaan Konsumer Bank Mega Syariah Melonjak 23 Persen

Pembiayaan Konsumer Bank Mega Syariah Melonjak 23 Persen
Foto: Ilustrasi Pembiayaan Konsumer Bank Mega Syariah Melonjak 23 Persen.

Portofolio pembiayaan konsumer PT Bank Mega Syariah mencatatkan pertumbuhan signifikan pada awal tahun 2026. Lonjakan ini dipicu oleh peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan ritel serta investasi jangka panjang.

Hingga April 2026, total pembiayaan konsumer korporasi ini melesat hingga lebih dari Rp 586 miliar. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan di atas 23 persen secara tahunan atau year on year (YoY), seperti dikutip dari Money.

Wilayah Jakarta dan sekitarnya yang masuk dalam Area 1 memimpin sebagai kontributor paling dominan. Area ini menyumbang nilai pembiayaan mencapai Rp 202,7 billion. Posisi selanjutnya disusul oleh Area 4 dengan Rp 122,9 miliar dan Area 3 yang mengumpulkan Rp 98 miliar.

Peningkatan instrumen pembiayaan konsumer ini didorong oleh produk cicilan emas bernama Flexi Gold. Per April 2026, outstanding produk ini menembus Rp 31 miliar atau meroket lebih dari 1.236 persen secara year to date (YTD).

Kendati pembiayaan tumbuh pesat, tingkat risiko aset tetap berada dalam kondisi yang aman. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) Bank Mega Syariah tercatat bertahan di level nol persen.

Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah, Benadicto Alvonzo Ferary, menjelaskan bahwa tren positif ini merefleksikan minat masyarakat yang tetap tinggi terhadap pembiayaan yang fleksibel.

ÔÇ£Pembiayaan konsumer saat ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga mulai diarahkan untuk mendukung perencanaan keuangan jangka panjang. Kami melihat minat masyarakat terhadap kepemilikan emas melalui skema cicilan terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir,ÔÇØ ujar Benadicto dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).

Pendapatan dan Laba Perusahaan Ikut Tumbuh

Laju ekspansi pada segmen konsumer ini turut mengerek pendapatan perseroan. Pada April 2026, perolehan pendapatan dari sektor konsumer menyentuh Rp 5,4 miliar, atau naik sebesar 12,28 persen dari bulan sebelumnya.

Manajemen Bank Mega Syariah berkomitmen untuk memperkuat lini bisnis ritel ini ke depan. Strategi yang disiapkan meliputi inovasi produk sesuai kebutuhan pasar serta perluasan aksesibilitas jaringan di berbagai daerah.

ÔÇ£Kami akan terus memperkuat pertumbuhan pembiayaan konsumer secara sehat dan berkelanjutan, termasuk melalui pembiayaan emas syariah yang semakin diminati masyarakat,ÔÇØ kata Benadicto.

Secara agregat, pembiayaan yang disalurkan Bank Mega Syariah menembus Rp 9,26 triliun. Jumlah ini tumbuh di atas 7,2 persen dibandingkan capaian akhir tahun lalu yang berada di angka Rp 8,64 triliun.

Kenaikan volume pembiayaan berimplikasi pada pendapatan piutang yang melonjak sekitar 40,9 persen menjadi Rp 118 miliar hingga kuartal I 2026. Di samping itu, sektor pendapatan bagi hasil turut naik 4,7 persen menjadi lebih dari Rp 114,73 miIiar.

Hingga Maret 2026, Bank Mega Syariah sukses membukukan laba sebelum pajak sebesar lebih dari Rp 79,97 miliar. Perolehan laba ini melonjak di atas 51 persen dibandingkan periode serupa pada tahun lalu, disokong pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang mencapai Rp 191,60 miliar.

Artikel terkait

Rekomendasi