Profesi pembersih kaca gedung tinggi menuntut keberanian besar karena harus bekerja bergantung pada seutas tali di ketinggian puluhan lantai. Seperti dilansir dari Megapolitan, para pekerja ini harus menghadapi terpaan angin kencang dan perubahan cuaca ekstrem yang berisiko mengancam keselamatan jiwa mereka.
Supriatna (33) merupakan salah satu pekerja yang sudah melakoni profesi ekstrem ini selama 15 tahun terakhir. Faktor penghasilan yang menjanjikan serta minat pada dunia ketinggian menjadi alasan utama dirinya bertahan hingga saat ini.
ÔÇ£Sudah cukup lama, sekitar 15 tahun. Tapi khusus di dunia rope access ini baru sekitar tujuh sampai delapan tahun. Sebelumnya saya kerja di gondola,ÔÇØ ujar Supriatna saat ditemui Kompas.com di Gedung BPH Migas, Tandean, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Saat menjalankan tugasnya, para pekerja wajib menggunakan alat pelindung diri yang komplet demi meminimalkan risiko kecelakaan. Perlengkapan tersebut meliputi helm safety, full body harness, tali pengaman, sarung tangan, hingga sepatu khusus anti-slip.
Harness yang dipakai juga dilengkapi berbagai perangkat teknis seperti carabiner, descender, ascender, dan pengait logam. Alat-alat ini berfungsi untuk mengontrol pergerakan naik-turun sekaligus menjaga stabilitas tubuh saat terpaan angin kencang melanda.
Para pembersih fasad luar ini umumnya berstatus sebagai pekerja lepas atau freelance. Mereka bernaung di bawah perusahaan yang bergerak di bidang general contractor, supplier and trading, konstruksi, desain interior, hingga building maintenance.
Sebelum beralih ke sistem rope access yang mengandalkan tali, Supriatna terlebih dahulu bekerja menggunakan bantuan gondola. Sistem tali dipilih karena dinilai memiliki fleksibilitas yang lebih tinggi saat bermanuver di dinding gedung.
ÔÇ£Karena lebih fleksibel,ÔÇØ kata dia.
Meski kini sudah terbiasa dengan ketinggian ekstrem, Supriatna tidak menampik adanya rasa takut yang membayangi saat awal merintis karier.
ÔÇ£Awal-awal tetap takut. Semua orang yang pertama kali turun pasti takut. Tapi lama-lama kalau sudah biasa ya jadi terbiasa,ÔÇØ ujar dia.
Supriatna menjadi satu-satunya anggota keluarga yang menekuni bidang ini. Sejak menyelesaikan pendidikan sekolah, ia langsung terjun ke dunia kerja ketinggian tanpa pernah mencoba bidang profesi lainnya.
Proses adaptasinya berjalan relatif cepat karena modal pengalaman dari operasional gondola, meskipun pelatihan dasarnya memakan waktu seminggu. Menariknya, ia menyebut pekerja senior justru cenderung lebih waspada dibandingkan personel yang baru bergabung.
ÔÇ£Kadang pekerja baru justru terlalu percaya diri dan enggak sesuai standar. Kalau yang sudah lama pasti lebih menjaga keselamatan,ÔÇØ kata dia.
Ketakutan terhadap ketinggian diakui tidak pernah benar-benar lenyap dari benaknya walaupun jam terbangnya sudah mencapai belasan tahun.
ÔÇ£Justru makin lama makin hati-hati karena sudah paham risikonya,ÔÇØ ujar Supriatna.
Keberhasilan pekerjaan ini tidak sekadar bertumpu pada aspek keberanian semata. Pekerja wajib menguasai kemampuan membaca situasi lapangan, dinamika cuaca, hingga kalkulasi titik anchor yang menjadi tumpuan utama tali pengaman.
Faktor cuaca buruk seperti hujan deras dan angin kencang menjadi kendala utama yang kerap memicu keterlambatan penyelesaian proyek dari target awal. Kendati demikian, para pekerja tetap diharuskan hadir di lokasi guna memantau perkembangan situasi.
ÔÇ£Sering, biasanya karena faktor cuaca,ÔÇØ kata dia.
ÔÇ£Tetap datang dulu ke lokasi. Karena pekerjaan ini memang tergantung cuaca,ÔÇØ ujarnya.
Selain membersihkan kaca, keahlian rope access ini juga diterapkan untuk pengerjaan pengecatan, coating, serta perawatan luar gedung lainnya. Supriatna mengaku sempat berniat menyudahi profesi ini, namun keterbatasan keahlian di bidang lain membuatnya bertahan.
ÔÇ£Pernah kepikiran. Tapi kalau keluar dari dunia ini bingung mau kerja apa lagi, karena basic-nya sudah di sini,ÔÇØ kata dia.
ÔÇ£Dari vendor dibagi per tim, tergantung jumlah orang yang turun,ÔÇØ ujarnya.
Dalam situasi kerja yang normal, Supriatna mampu mengantongi pendapatan berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 12 juta per proyek. Durasi pengerjaan untuk satu kali proyek biasanya bervariasi mulai dari dua minggu hingga dua bulan.
ÔÇ£Kadang sekitar Rp 10 juta sampai Rp 12 juta per bulan, tergantung proyek. Kadang bisa lebih,ÔÇØ kata dia.
ÔÇ£Sebenarnya masih kurang kalau dibanding risikonya,ÔÇØ tutur dia.
Order pengerjaan gedung juga tidak selalu tersedia setiap saat. Dalam periode tertentu, mereka hanya mendapatkan satu proyek dalam sebulan atau bahkan menghadapi fase sepi order sama sekali.
ÔÇ£Minimal satu proyek dalam sebulan. Pernah juga ada masa-masa sepi,ÔÇØ kata dia.
Beban finansial pekerja lepas ini kian bertambah karena mereka diwajibkan menyediakan seluruh perangkat keselamatan kerja menggunakan modal pribadi.
ÔÇ£Iya, beli sendiri,ÔÇØ ujarnya.
Kondisi serupa dialami oleh Rizki Rianto (36), pekerja rope access yang sudah menggeluti bidang ini sejak tahun 2014 setelah sebelumnya bekerja di bengkel.
ÔÇ£Sebelumnya saya kerja di bengkel. Terus ada teman yang ngajak,ÔÇØ ujar Rizki.
Ia menekankan bahwa profesi ini memerlukan keahlian khusus dan tidak bisa dilakukan tanpa adanya sertifikasi resmi resmi.
ÔÇ£Dulu sekitar tiga sampai empat tahun baru benar-benar dapat lisensi dan bisa diturunkan kerja,ÔÇØ kata dia.
Rizki juga mengakui adanya kendala mental berupa rasa takut melihat ke bawah saat pertama kali diterjunkan ke lapangan.
ÔÇ£Yang penting jangan panik. Kalau panik malah bisa blank Bess,ÔÇØ katanya.
Mahalnya harga perangkat keselamatan kerja menjadi tantangan tersendiri, di mana satu set peralatan lengkap bisa menembus angka puluhan juta rupiah.
ÔÇ£Satu set perlengkapan bisa sekitar Rp 25 juta Bess,ÔÇØ ujar dia.
ÔÇ£Dicicil dari hasil proyek. Jadi harus pintar bagi uang buat beli alat dan maintenance,ÔÇØ kata Rizki.
Sementara itu, Fajar Maulana (27) memilih jalur profesi ini karena ketertarikannya pada tantangan yang memacu adrenalin.
ÔÇ£Awalnya saya kerja di bidang lain sebelum jadi rope access. Saya lihat pekerjaan ini lebih menantang,ÔÇØ ujar Fajar.
Sepanjang tujuh tahun berkarier, Fajar tercatat pernah membersihkan dinding luar gedung pencakar langit setinggi 257 meter atau setara 72 lantai di wilayah Jakarta.
Prosedur ketat wajib dijalankan sebelum memulai aktivitas di pagi hari, mulai dari pengarahan teknis, doa bersama, hingga pemeriksaan ganda pada alat.
ÔÇ£Briefing pagi, doa masing-masing, lalu cek alat dua kali sebelum mulai kerja,ÔÇØ kata dia.
Tantangan dengan tingkat ketegangan tertinggi dirasakan Fajar saat harus bermanuver pada struktur bangunan yang memiliki desain menjorok keluar atau overhang.
ÔÇ£Irregularitas bentuk bangunan itu yang memicu tingkat kecemasan lebih tinggi,ÔÇØ tutur dia.
ÔÇ£Suka aja, terasa keren. Enggak semua orang bisa lihat Jakarta dari atas,ÔÇØ kata dia.
ÔÇ£Awalnya sempat tanya, ÔÇÿEnggak ada kerjaan lain?ÔÇÖ Tapi saya jelaskan kalau pekerjaan ini memang menghasilkan,ÔÇØ katanya.
Besarnya risiko keselamatan membuat sejumlah rekan seprofesi Fajar memilih mundur dan mencari pekerjaan baru yang lebih aman setelah mereka berkeluarga.
ÔÇ£Ada. Biasanya karena sudah punya istri dan anak, jadi pilih pekerjaan lain yang dianggap lebih aman,ÔÇØ ujarnya.
Pengamat ketenagakerjaan, Timboel Siregar, menegaskan bahwa profesi ini masuk kategori risiko tinggi sehingga perusahaan wajib memberikan jaminan sosial dan perlindungan K3.
ÔÇ£Jadi memang itu pekerjaan yang berisiko,ÔÇØ ujar Timboel.
ÔÇ£Nah, freelance-freelance itu juga kan tentunya bukan berarti dia tanpa perlindungan, harus dilindungi,ÔÇØ katanya.
ÔÇ£Itu enggak boleh, dia tetap harus dinaungi bahwa si pekerja itu dijamin oleh si perusahaan itu,ÔÇØ ujar Timboel.
Timboel juga menyoroti regulasi pemerintah yang harus memastikan seluruh pekerja memiliki sertifikasi keahlian yang valid serta menyoroti beban penyediaan alat yang mahal.
ÔÇ£Dia pasti punya risiko besar. Oleh sebab itu memang harus dipastikan orang yang bekerja itu punya skill, punya sertifikat,ÔÇØ ujar dia.
Dari sudut pandang sosiologi, sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memandang fenomena ini sebagai bentuk potret ketimpangan sosial di wilayah urban modern.
ÔÇ£Mereka bekerja menjaga simbol kemewahan kota seperti gedung perkantoran, hotel, apartemen elit yang mewah, namun seringkali berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah,ÔÇØ ujar Rakhmat.
ÔÇ£Gedung yang bersih dan indah tanpa menyadari risiko fisik dan mental yang dihadapi para pekerja,ÔÇØ katanya.
ÔÇ£Pekerja tidak hanya dipandang sebagai alat produksi, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki hak atas keselamatan, kesejahteraan, dan penghormatan sosial,ÔÇØ ujar Rakhmat.