Pembatasan Israel Gagalkan Ibadah Haji Warga Gaza Tiga Tahun Berturut-turut

Pembatasan Israel Gagalkan Ibadah Haji Warga Gaza Tiga Tahun Berturut-turut
Foto: Ilustrasi Pembatasan Israel Gagalkan Ibadah Haji Warga Gaza Tiga Tahun Berturut-turut.

Warga Palestina di Gaza kembali tidak dapat menunaikan ibadah haji maupun merayakan Idul Adha selama tiga tahun berturut-turut. Kondisi ini dipicu oleh pembatasan wilayah dan serangan militer yang terus dilancarkan oleh Israel, seperti dilansir dari Detikcom.

Sebelum konflik memuncak pada Oktober 2023, ribuan warga Gaza rutin berangkat ke Tanah Suci setiap tahun. Gaza memiliki kuota tahunan sebanyak 2.500 jemaah haji, yang sebagian besar di antaranya telah mengantre selama bertahun-tahun.

Namun, penutupan jalur perbatasan oleh militer Israel menghentikan total keberangkatan tersebut. Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina di Gaza melaporkan lebih dari 10.000 warga kehilangan kesempatan berhaji sejak agresi dimulai.

Sejumlah warga dilaporkan meninggal dunia saat berada dalam daftar tunggu keberangkatan. Meskipun pintu penyeberangan Rafah yang berbatasan dengan Mesir sempat dibuka terbatas awal tahun ini, otoritas Israel tetap memperketat izin keluar.

Keberangkatan dari wilayah tersebut diprioritaskan hanya untuk evakuasi medis dan kasus kemanusiaan khusus melalui prosedur internal Israel. Hambatan ini menimbulkan dampak emosional serta spiritual yang mendalam bagi masyarakat Gaza.

"Kami seharusnya berada di sana pada hari-hari suci ini," ujar salah satu warga Palestina, Najia Abu Lehia (64) kepada Reuters.

Najia Abu Lehia mengenang saat ia bersama mendiang suaminya telah merampungkan seluruh persiapan haji sebelum pertempuran meletus dan menghancurkan rencana mereka.

Dampak finansial terhadap sektor keagamaan juga tergolong masif. Riset dari Pusat Studi Politik Palestina (PCPS) pada Mei 2026 yang disusun peneliti Khaled Abu Amer menyebut tindakan Israel terhadap sektor Haji dan Umrah di Gaza sebagai genosida ekonomi struktural.

Studi tersebut memaparkan kehancuran total yang dialami oleh seluruh 78 perusahaan perjalanan resmi di Gaza. Kepala Asosiasi Perusahaan Haji dan Umrah di Gaza, Mohammed al-Astal, menyebut mayoritas kantor agen perjalanan rusak atau hancur.

Kondisi ini memicu kerugian modal yang mencapai lebih dari $4 juta. Selain itu, terdapat sekitar $2-3 juta dana operasional yang saat ini masih tertahan di tangan agen eksternal, termasuk maskapai penerbangan dan hotel di Arab Saudi serta Mesir.

Padahal, sektor layanan perjalanan haji dan umrah mengalirkan dana hingga $12 juta setiap tahun ke dalam sirkulasi ekonomi lokal sebelum perang berkecamuk. Berhentinya aktivitas ini memengaruhi pendapatan lebih dari 1.500 pekerja.

Laporan PCPS menegaskan bahwa gempuran berulang pada sektor ini mengindikasikan adanya kebijakan perusakan yang disengaja oleh pihak militer, bukan sekadar dampak kerusakan tidak disengaja.

"Kami tidak dapat menyelenggarakan musim (haji) ini karena kami tidak diberi jaminan bahwa perbatasan akan dibuka," kata Rami Abu Staitah, Direktur Jenderal Haji dan Umrah di Kementerian Wakaf.

"Persiapan membutuhkan kontrak awal yang kompleks untuk perumahan dan transportasi, yang tidak mungkin dilakukan dalam kondisi ini," sambungnya.

Kementerian Wakaf telah mendesak komunitas internasional, Arab Saudi, dan Mesir untuk melakukan intervensi. Langkah diplomasi ini diperlukan demi memisahkan pelaksanaan ibadah suci dari kepentingan politik.

Krisis akibat blokade ini turut melumpuhkan tradisi keagamaan lain di wilayah tersebut. Otoritas Palestina di Gaza menyatakan ibadah penyembelihan hewan kurban Idul Adha tidak dapat dilaksanakan tahun ini.

Pembatalan ritual kurban ini menjadi yang ketiga kalinya secara berturut-turut di Gaza. Penyebab utamanya adalah kelangkaan hewan ternak akibat pemblokiran pasokan hewan hidup oleh Israel ke Jalur Gaza.

Kamar Dagang dan Industri Gaza mencatat lebih dari 90 persen sektor peternakan setempat hancur terimbas serangan dan pembatasan logistik pertanian. Rantai pasokan pangan di kawasan tersebut kini terisolasi sepenuhnya.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mencatat pada November lalu bahwa minimal 80 persen populasi domba dan 70 persen kambing di Gaza telah mati akibat perang. Mayoritas dari 2,3 juta warga Gaza kini bertahan hidup di kamp-kamp pengungsian dan reruntuhan rumah.

Artikel terkait

Rekomendasi