Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus level Rp 17.667 per dollar AS pada Senin (18/5/2026) mulai memicu kekhawatiran serius di kalangan investor dan pelaku usaha nasional. Kondisi ini dilansir dari Money berpotensi meningkatkan biaya produksi, memicu keluarnya modal asing, hingga memperbesar risiko pemutusan hubungan kerja.
Gejolak nilai tukar tersebut dinilai mereduksi kepastian pelaku usaha dalam menyusun rencana bisnis jangka panjang. Akibatnya, beberapa perusahaan dilaporkan mulai mempertimbangkan ulang ekspansi industri mereka di Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memberikan pandangan mengenai dampak makroekonomi dari situasi tersebut.
ÔÇ£Pelemahan rupiah itu mengirim sinyal bahwa kondisi makroekonomi sedang penuh tantangan. Semakin melemah nilai tukar, pelaku usaha juga mulai khawatir terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, impor mesin industri, sampai biaya logistik,ÔÇØ ujar Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Menurut Bhima, situasi ini menaikkan beban risiko atau risk premium bagi para penanam modal asing.
ÔÇ£Investor jadi mempertimbangkan ulang untuk masuk ke Indonesia karena biaya investasinya lebih mahal. Risiko kurs meningkat, bunga obligasi lebih tinggi, dan biaya pinjaman perbankan juga berpotensi naik,ÔÇØ katanya Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Ketidakpastian kurs yang fluktuatif ini juga dapat memicu fenomena capital flight ke luar negeri.
ÔÇ£Kalau kondisi kurs terus berubah-ubah seperti sekarang, rencana bisnis investor juga ikut berubah. Akibatnya ada potensi capital flight, investor yang tadinya mau masuk akhirnya batal, sementara industri yang sudah ada bisa menunda ekspansi atau bahkan relokasi,ÔÇØ ucap Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Faktor lain yang disoroti adalah potensi terjadinya inflasi yang dapat menggerus daya beli masyarakat.
ÔÇ£Pelaku usaha pasti melihat pelemahan kurs akan memengaruhi daya beli dan inflasi, sehingga mereka mulai merombak strategi bisnisnya di Indonesia,ÔÇØ katanya Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Bhima juga memproyeksikan pergerakan kurs rupiah jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi.
ÔÇ£Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,ÔÇØ ujar Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Meskipun tekanan global menjadi pemicu utama, persepsi pasar tetap dipengaruhi oleh fundamental dalam negeri.
ÔÇ£Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?ÔÇØ kata Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Selain masalah investasi, korporasi yang mengandalkan pendanaan pasar modal turut menghadapi tantangan berat.
ÔÇ£Jalur yang paling terasa dampaknya adalah pem pipeline. Jadi lebih mahal dan lebih sulit. Kalaupun perusahaan tetap ekspansi, mereka harus membayar biaya yang jauh lebih tinggi,ÔÇØ tuturnya Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Pengetatan akses pembiayaan ini dikhawatirkan mengganggu stabilitas operasional industri padat karya.
ÔÇ£Sebenarnya jalur yang paling terasa adalah pembiayaannya, jadi lebih mahal jadi lebih sulit sehingga walaupun melakukan ekspansi mereka harus membayar dengan harga lebih mahal,ÔÇØ tegas Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Sektor manufaktur menjadi area yang paling terdampak mengingat tingginya ketergantungan terhadap komponen impor.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bob Azam memberikan rincian mengenai beban operasional yang dihadapi pengusaha.
ÔÇ£Sekitar 70 persen bahan baku sektor manufaktur masih impor. Dalam setahun terakhir rupiah juga sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen dan itu langsung memukul biaya produksi,ÔÇØ ujar Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Tantangan operasional ini diperparah oleh disrupsi logistik dan situasi geopolitik global.
ÔÇ£Dunia usaha sekarang dipaksa melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas semaksimal mungkin karena kenaikan biaya sudah dua digit, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan sembarangan,ÔÇØ ucap Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Meskipun bayang-bayang pengurangan staf mengintai, penyesuaian ini dipandang sebagai langkah bertahan.
ÔÇ£Situasi ini sebenarnya sudah terjadi sejak dua atau tiga tahun lalu. Jadi perusahaan-perusahaan sudah mulai mempersiapkan langkah efisiensi sejak lama,ÔÇØ katanya Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Ia menekankan pentingnya sistem perlindungan ketenagakerjaan yang adaptif bagi para pekerja.
ÔÇ£Yang lebih penting adalah bagaimana pekerja yang terkena PHK bisa cepat mendapatkan pekerjaan baru. Itu bentuk perlindungan terbaik,ÔÇØ ujar Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Manajemen operasional internal dan efisiensi rantai pasok domestik dinilai masih bisa dioptimalkan.
ÔÇ£Perbaikan produktivitas, efisiensi logistik, penguatan arus kas, sampai penurunan biaya energi menjadi faktor penting supaya dunia usaha tetap bisa bertahan,ÔÇØ katanya Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Hubungan industrial yang harmonis menjadi instrumen penting dalam memitigasi risiko operasional.
ÔÇ£Kalau pengusaha dan buruh bisa duduk bersama mencari solusi, situasi sulit seperti sekarang akan lebih mudah dihadapi,ÔÇØ tutur Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Dunia usaha mengharapkan adanya perbaikan indikator ekonomi makro global dalam waktu dekat.
ÔÇ£Kita berharap ini sudah menjadi bottom line. Kalau situasi global mulai pulih dan arus modal kembali masuk, Indonesia harus sudah siap dengan kebijakan yang pro investasi dan mendukung penciptaan lapangan kerja,ÔÇØ tegas Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan di Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Di tengah tekanan kurs, pasar spot mencatat rupiah ditutup pada Rp 17.668 per dollar AS pada Senin (18/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot 124,08 poin ke level 6.599,24 setelah sempat merosot hampir 5 persen pada sesi pertama.
Walakin, data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 mencatatkan performa positif sebesar 5,61 persen (yoy). Angka ini ditopang oleh konsumsi domestik selama Ramadhan dan Idul Fitri serta realisasi belanja pemerintah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan konfirmasi mengenai posisi pertumbuhan ekonomi nasional tersebut.
ÔÇ£Tadi pengumuman BPS di kuartal pertama baik, kita pertumbuhannya di 5,61. Dan pertumbuhan ini adalah di antara negara G-20 tertinggi. Jadi kita di atas China, di atas Singapura, Korea Selatan, Arab, bahkan Amerika,ÔÇØ kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Perekonomian.