Pelemahan Rupiah Menekan Struktur Industri Elektronik Nasional

Pelemahan Rupiah Menekan Struktur Industri Elektronik Nasional
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Menekan Struktur Industri Elektronik Nasional.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi tekanan serius bagi industri elektronik nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor. Situasi ini dilaporkan terjadi pada Jumat, 22 Mei 2026, di tengah tingginya ketidakpastian pasar global, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Kondisi struktur industri dalam negeri saat ini dinilai sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global. Sekitar 80 persen komponen biaya industri elektronik menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat, sehingga fluktuasi kurs langsung memicu lonjakan harga produk.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik) Denny Irawan menjelaskan bahwa situasi kurs saat ini menguji daya tahan sektor manufaktur domestik.

ÔÇ£Ini momentum penting untuk mempercepat penguatan industri komponen dalam negeri agar Indonesia tidak terus-menerus rentan terhadap gejolak global,ÔÇØ ucap Denny Irawan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik).

Dampak penurunan nilai mata uang ini memicu kenaikan ongkos produksi, biaya impor, hingga pembengkakan modal kerja perusahaan. Sektor yang paling terpukul mencakup industri berkandungan impor tinggi, usaha kecil menengah manufaktur, serta produsen yang menyasar pasar domestik.

ÔÇ£Bagi industri yang kontraknya sudah berjalan, kenaikan biaya ini sering kali tidak bisa langsung dibebankan ke konsumen sehingga margin perusahaan tergerus,ÔÇØ kata Denny Irawan.

Beban finansial korporasi juga semakin berat akibat kenaikan pembayaran utang dalam denominasi dolar Amerika Serikat yang mengganggu arus kas. Pelaku usaha kemudian menerapkan strategi mitigasi seperti melakukan lindung nilai, meningkatkan komponen lokal, hingga diversifikasi ekspor.

ÔÇ£Perusahaan yang memiliki pasar ekspor relatif lebih resilien karena memiliki natural hedge dari pendapatan dolar. Namun ruang bertahan industri juga ada batasnya. Kalau pelemahan berlangsung terlalu dalam dan lama, tekanannya akan semakin berat,ÔÇØ ujar Denny Irawan.

Faktor eksternal seperti bertahannya suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan penarikan modal asing turut memperparah depresiasi mata uang negara berkembang. Bagi dunia usaha, stabilitas pergerakan kurs jauh lebih krusial dibandingkan dengan tingkat nilai nominal tertentu.

ÔÇ£Dunia usaha masih bisa menyesuaikan jika kurs bergerak stabil, tetapi ketika pergerakannya sangat cepat dan sulit diprediksi, perencanaan bisnis menjadi terganggu,ÔÇØ ujar Denny Irawan.

Langkah Bank Indonesia dan pemerintah dalam mengintervensi pasar valas serta menguatkan instrumen moneter mendapat apresiasi dari pelaku industri. Kendati demikian, pengetatan kebijakan moneter diingatkan agar tetap terukur demi menjaga kelangsungan sektor riil.

ÔÇ£Kenaikan suku bunga memang bisa membantu menjaga rupiah dalam jangka pendek, tetapi konsekuensinya bunga kredit naik, biaya pembiayaan meningkat, dan permintaan pasar bisa melemah. Jangan sampai stabilitas moneter tercapai, tetapi sektor riil justru tertekan terlalu dalam,ÔÇØ kata Denny Irawan.

Jika tren depresiasi ini berlanjut, industri elektronik dihadapkan pada ancaman inflasi, penurunan daya beli, hingga potensi pengurangan tenaga kerja. Investor global juga cenderung menahan modal akibat instabilitas makroekonomi.

ÔÇ£Dalam situasi tersebut, dunia usaha membutuhkan kepastian kebijakan, insentif bagi sektor produktif, serta percepatan pendalaman industri domestik untuk mengurangi ketergantungan impor,ÔÇØ ucap Denny Irawan.

Artikel terkait

Rekomendasi