Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Biaya Hidup

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Biaya Hidup
Foto: Ilustrasi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Picu Kenaikan Biaya Hidup.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat mengalami pelemahan signifikan hingga sempat menyentuh level Rp17.300 pada Kamis (23/4/2026) akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian ekonomi global. Data Bank Indonesia menunjukkan mata uang Garuda terkoreksi 0,87 persen dibandingkan posisi akhir Maret 2026.

Dilansir dari Money, nilai tukar ditutup pada posisi Rp17.286 per dollar AS atau melemah 105 poin dari hari sebelumnya. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa meski pelemahan ini belum berdampak langsung secara drastis pada daya beli, tekanan terhadap harga barang impor mulai membayangi masyarakat.

"Dampaknya bagi masyarakat, belum berarti krisis langsung hari ini, tetapi tekanan ke depan jelas ada," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Kenaikan biaya diperkirakan merambat pada sektor transportasi, logistik, hingga industri farmasi dan manufaktur yang bergantung pada bahan baku luar negeri. Josua memperingatkan masyarakat agar tidak melakukan aksi spekulasi valuta asing di tengah fluktuasi pasar saat ini.

"Jadi, efeknya bukan semata kurs di pasar uang, tetapi biaya hidup yang naik pelan-pelan," kata Josua Pardede.

Ia menyarankan masyarakat untuk memperkuat dana darurat dan menunda belanja barang impor yang tidak mendesak guna menjaga ketahanan finansial rumah tangga. Langkah mitigasi juga diperlukan bagi pelaku usaha melalui pengelolaan persediaan dan instrumen lindung nilai.

"Jadi yang perlu dilakukan masyarakat bukan berspekulasi, melainkan menurunkan kerentanan terhadap kenaikan biaya hidup dan kurs," ucap Josua Pardede.

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menambahkan bahwa kenaikan harga barang impor atau imported inflation merupakan risiko utama yang harus diwaspadai. Namun, pemerintah telah mengantisipasi dampak tersebut melalui fungsi APBN untuk menstabilkan harga komoditas dalam negeri.

"Tentu dampaknya yang paling terasa kalau terjadi imported inflation, ini bisa terasa di masyarakat. Tapi kan untuk sekarang ini imported inflation sebagian besar sudah ditangani oleh pemerintah melalui APBN yang berperan sebagai shock absorber," ungkap Myrdal Gunarto, Global Market Economist Maybank Indonesia.

Kebijakan Bank Indonesia dalam melakukan intervensi pasar dan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen dinilai sudah optimal untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Myrdal menekankan pentingnya menjaga cadangan devisa agar tidak terkuras secara drastis dalam proses stabilisasi nilai tukar tersebut.

"Jadi sudah all out sih kalau menurut saya sih dari BI langkahnya. Tapi yang penting untuk stabilitas nilai tukar rupiah jangan sampai terlalu drastis (mengorbankan cadangan devisa)," tukas Myrdal Gunarto.

Artikel terkait

Rekomendasi