Kalangan pelaku usaha mengkhawatirkan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus berlanjut karena berpotensi mengganggu stabilitas keuangan dunia usaha. Dampak negatif tersebut dinilai dapat menekan arus kas, meningkatkan biaya operasional, hingga menggerus daya beli masyarakat.
Kamar Dagang dan Industri Indonesia menilai situasi ini sebagai peringatan yang harus diwaspadai karena lonjakan kurs mata uang asing langsung membebani sektor produksi. Kenaikan harga bahan baku impor dan pembengkakan biaya logistik menjadi ancaman nyata bagi berbagai sektor industri, seperti dilansir dari Investor Daily.
"Pelemahan nilai rupiah akan mempengaruhi cash flow dan biaya operasional karena kenaikan ini akan mengerek kenaikan bahan baku impor dan logistik," ujar Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Bidang Otonomi Daerah Kamar Dagang dan Industri Indonesia pada Senin (18/5/2026).
Kekhawatiran juga muncul terkait batas kemampuan adaptasi dunia usaha jika fluktuasi mata uang asing ini terus berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah turut merasakan tekanan serupa karena keterbatasan ruang gerak akibat risiko penurunan penjualan jika menaikkan harga produk.
"Jika pelemahan ini terus berlanjut, daya tahan pelaku usaha akan terbatas dan dikhawatirkan terjadi penyesuaian harga di tingkat konsumen. Jika kenaikan harga produk mengalami penyesuaian tentu akan mempengaruhi daya beli," kata Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Bidang Otonomi Daerah Kamar Dagang dan Industri Indonesia.
Di pasar spot exchange pada perdagangan Senin (18/5/2026), mata uang Indonesia ditutup merosot 71 poin atau 0,4 persen ke posisi Rp 17.668 per dolar Amerika Serikat. Penurunan terjadi di tengah sentimen negatif global seperti kenaikan harga energi, kebijakan suku bunga The Fed, dan ketegangan geopolitik.
Bank Indonesia memandang tingkat depresiasi mata uang domestik saat ini masih berada dalam koridor wajar, yakni berkisar 5,4 persen secara year to date. Tekanan musiman pada periode April hingga Juni dinilai lazim terjadi karena tingginya permintaan valuta asing untuk keperluan belanja pemerintah dan masyarakat.
"Kita bicara average tahunan, dan kalau bicara tahun ke tahun rupiah umumnya dalam tekanan di April, Mei, Juni, karena demand-nya tinggi," ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Otoritas moneter memproeksikan pergerakan mata uang domestik akan berbalik menguat dalam beberapa bulan ke depan. Sektor usaha saat ini juga tengah melakukan langkah mitigasi seperti efisiensi biaya produksi, penggunaan bahan baku lokal, serta inovasi produk.
"Kalau Juli Agustus akan menguat, coba Juli Agustus September akan naik. (Itu) kenapa kami masih yakin, kalau tahun depan monggo kita diskusi," tutur Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.