Ketergantungan mayoritas komoditas pangan Indonesia terhadap impor yang menggunakan transaksi dolar AS memicu lonjakan harga di pasar domestik akibat pelemahan nilai tukar rupiah, dilansir dari Media Indonesia pada Kamis (22/5).
Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), Andrian Lame Muhar menerangkan bahwa lonjakan mata uang asing berbanding lurus dengan pergerakan harga bahan pokok di dalam negeri.
"Banyak harga pangan itu diperhitungkan dengan USD. Kalau dolar naik, harga-harganya pun naik," ujarnya Andrian Lame Muhar, Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas).
Beberapa komoditas yang terkena efek langsung meliputi daging sapi impor dari Australia, bawang putih asal Tiongkok, hingga minyak goreng. Kenaikan harga juga menyasar kemasan plastik akibat kelangkaan nafta sebagai bahan baku yang dipicu ketegangan di Selat Hormuz, serta diperberat oleh momentum Idul Adha 2026.
Pemberian subsidi oleh pemerintah dinilai menjadi instrumen efektif guna meredam lonjakan harga pangan selama kapasitas anggaran negara masih mencukupi. Sejumlah program intervensi yang telah berjalan di antaranya beras SPHP, daging kerbau sebagai substitusi, mekanisme domestic market obligation (DMO) minyak goreng, dan relaksasi pajak.
Apresiasi juga diberikan kepada Kementerian Pertanian yang menyalurkan bantuan subsidi pakan dan bibit ayam kepada peternak untuk menekan harga pokok produksi (HPP).
"Dengan HPP atau biaya produksi yang lebih rendah, diharapkan daging ayam bisa dijual ke pasar dengan harga yang terjangkau," tutur Lame Andrian Lame Muhar, Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas).
Langkah substitusi diakui tidak selalu mudah lantaran memerlukan komoditas pengganti yang sepadan. Ketersediaan pasokan menjadi kunci utama stabilitas, sebab menipisnya stok di pasar secara otomatis akan memicu lonjakan harga kembali.