Pelemahan Rupiah Paksa Produsen Tekstil Naikkan Harga Jual

Pelemahan Rupiah Paksa Produsen Tekstil Naikkan Harga Jual
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Paksa Produsen Tekstil Naikkan Harga Jual.

Biaya operasional industri tekstil nasional mengalami lonjakan signifikan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis (14/5/2026). Dilansir dari Money, kondisi ini memaksa para produsen untuk melakukan penyesuaian harga jual guna menjaga keberlangsungan operasional perusahaan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi menjelaskan bahwa kenaikan biaya produksi sangat berdampak pada produk polyester. Hal ini terjadi karena bahan baku utama seperti mono ethylene glycol (MEG) dan paraxylene (PX) masih sangat bergantung pada pasokan impor.

Meskipun harga bahan baku melonjak, Aqil menegaskan bahwa kegiatan di pabrik tetap dipertahankan agar rantai produksi tidak terputus. Penyesuaian harga pada konsumen menjadi langkah yang tidak terhindarkan demi menutupi beban biaya tersebut.

"Karena saat ini, lebih baik tetap running walaupun harga bahan baku naik daripada harus setop produksi," ujar Aqil, Sekretaris Jenderal APSyFI.

Selain faktor kurs, penguatan harga minyak mentah dunia turut memberikan tekanan tambahan bagi sektor hulu tekstil. Meskipun permintaan pasar dilaporkan masih stabil, APSyFI mengkhawatirkan adanya penurunan margin keuntungan apabila harga jual dipatok terlalu tinggi bagi konsumen dalam jangka panjang.

Sebagai langkah bertahan, asosiasi melakukan peninjauan ulang terhadap kesepakatan-kesepakatan bisnis yang sudah ada untuk menyesuaikan kapasitas pendanaan perusahaan.

"Salah satu cara untuk bertahan yakni renegotiated contract," jelas Aqil, Sekretaris Jenderal APSyFI.

Menanggapi situasi ini, pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Rabu (13/5/2026) meminta pelaku usaha dan masyarakat tetap tenang. Pemerintah mengeklaim fondasi ekonomi Indonesia saat ini dalam posisi yang kuat untuk menghadapi gejolak nilai tukar.

"Enggak (perlu panik). Karena fondasi ekonomi kita bagus, kita tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.

Kekhawatiran mengenai potensi pengulangan krisis ekonomi tahun 1998 dibantah oleh Menkeu karena parameter ekonomi saat ini dinilai jauh lebih baik. Pihaknya optimistis bahwa pemulihan iklim bisnis dapat dilakukan dengan cepat karena pondasi yang sudah terbangun.

"Kita enggak akan sejelek kayak tahun '98 lagi, enggak akan jelek malah. Dengan fondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya," jelas Purbaya, Menteri Keuangan.

Menteri Keuangan juga memberikan kepercayaan penuh kepada Bank Indonesia untuk mengambil kebijakan moneter yang diperlukan guna menstabilkan posisi rupiah. Pemerintah berkomitmen memberikan dukungan sesuai kewenangannya untuk memperkuat nilai fundamental mata uang nasional.

"Ya itu anda tanya Bank Sentral saja, mereka yang berwenang. Tetapi saya yakin mereka bisa kendalikan. Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," imbuh Purbaya, Menteri Keuangan.

Artikel terkait

Rekomendasi