Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Ancam Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Ancam Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Ancam Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi.

Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS diprediksi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dalam waktu dekat. Dilansir dari Investor Daily, mata uang Garuda telah menembus level psikologis Rp17.500 pada pertengahan Mei 2026, yang berdampak langsung pada biaya impor komoditas energi.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah ditutup pada level Rp17.529 per dolar AS pada Kamis, 14 Mei 2026. Kondisi ini menekan sektor energi mengingat status Indonesia sebagai importir bersih minyak sejak tahun 2004, dengan ketergantungan impor mencapai lebih dari 50 persen dari total kebutuhan domestik.

Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Hamid Paddu, menjelaskan bahwa kebutuhan minyak nasional mencapai 1,6 juta barel per hari (bph), sedangkan produksi dalam negeri hanya 650 ribu bph. Selisih tersebut harus dipenuhi melalui pembelian internasional menggunakan mata uang dolar AS.

ÔÇ£Nah, minyak impor dibeli dengan dengan dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,ÔÇØ kata Hamid, Jumat (15/5/2026).

Kenaikan beban ini diperparah oleh harga minyak dunia yang sudah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Saat ini, harga minyak berada di angka US$105 per barel, sementara kurs rupiah juga telah jauh melampaui asumsi awal pemerintah sebesar Rp16.500 per dolar AS.

ÔÇ£Berarti, dalam kasus impor minyak, ada dua beban, yakni kenaikan harga minyak dan kurs,ÔÇØ lanjut dia.

Hamid menilai rencana penyesuaian harga oleh badan usaha seperti Pertamina merupakan langkah yang rasional untuk menjaga stabilitas finansial. Penyesuaian ini diperkirakan tetap berlangsung otomatis mengikuti mekanisme pasar karena tidak adanya intervensi harga dari pemerintah pada produk nonsubsidi.

ÔÇ£Itu otomatis, karena BBM nonsubsidi tidak dicampuri pemerintah. Sejak lima tahun lalu, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM nonsubsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM,ÔÇØ lanjut Hamid.

Apabila penyesuaian harga tidak dilakukan di tengah lonjakan kurs dan harga minyak mentah, beban pengadaan impor akan menjadi risiko finansial yang sangat berat bagi perusahaan. Hamid memproyeksikan tekanan terhadap rupiah ini masih berpotensi berlanjut hingga pengujung tahun.

ÔÇ£Begitu membeli yang minyak dengan harga baru, kurs baru, biayanya besar sekali,ÔÇØ jelas Hamid.

Terkait potensi dampak sosial, Hamid berpendapat bahwa pemahaman masyarakat terhadap dinamika harga energi saat ini sudah jauh lebih matang. Hal ini terlihat dari minimnya gejolak saat terjadi perubahan harga pada produk-produk BBM nonsubsidi di masa lalu.

ÔÇØMakanya sekian tahun tidak pernah ada gejolak kalau harga BBM nonsubsidi berubah. Masyarakat sudah tahu bahwa BBM nonsubsidi sesuai mekanisme pasar. Kalau harga bahan bakunya naik, BBM-nya juga naik,ÔÇØ ungkap dia.

Artikel terkait

Rekomendasi