Pelemahan Rupiah Dipicu Faktor Domestik dan Global

Pelemahan Rupiah Dipicu Faktor Domestik dan Global
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Dipicu Faktor Domestik dan Global.

Penulis : Arnoldus Kristianus 24 Mei 2026 | 18:29 WIB

Petugas kasir menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

MAKASSAR, investor.id ÔÇô Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak hanya dipicu faktor global. Sejumlah faktor domestik, mulai dari tingginya permintaan dolar AS untuk pembayaran dividen hingga belum optimalnya penggunaan transaksi mata uang lokal, turut memberi tekanan pada kurs rupiah.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS sepanjang tahun ini hampir mencapai 5% secara year to date (ytd). Menurut dia, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi meningkatnya kebutuhan valas seiring periode pembayaran dividen perusahaan pada Mei 2026. Kondisi tersebut mendorong kenaikan permintaan dolar AS di pasar domestik, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.

Selain terhadap dolar AS, pelemahan rupiah juga terjadi terhadap sejumlah mata uang Asia, seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, dolar Hong Kong, dan yuan China. Dalam perbandingan regional, kinerja rupiah hanya sedikit lebih baik dibandingkan rupee India.

ÔÇ£Yang paling dalam kita melemah terhadap ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap dolar Singapura, yang berikutnya terhadap dolar Hong Kong, dan yuan China. Jadi, jangan terus menyalahkan global,ÔÇØ terang Josua dalam acara Pelatihan Wartawan di Hyatt Place Makassar, seperti dikutip pada Minggu (24/5/2026).

Melihat tekanan yang cukup besar terhadap rupiah, Josua menilai Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat langkah mitigasi. Salah satu strategi yang perlu terus diperluas ialah implementasi kebijakan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).

Menurut dia, semakin banyak negara yang menerapkan skema tersebut, semakin kecil ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan investasi lintas negara. Oleh karena itu, BI didorong memperluas kerja sama LCT dengan lebih banyak negara mitra.

ÔÇ£Kami mendorong Bank Indonesia menyuarakan ke peers central bank lain juga. Karena kita udah berkoar-koar di dalam tetapi bank sentral negara lain mungkin berkurang, berkoar-koar ke stakeholder-nya mereka,ÔÇØ tutur Josua.

LCT merupakan mekanisme penyelesaian transaksi bilateral antara pelaku usaha di Indonesia dan negara mitra menggunakan mata uang masing-masing melalui bank atau pihak penyelenggara perdagangan valuta asing yang ditunjuk (Appointed Cross Currency Dealer/ACCD). Skema ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, menegaskan LCT menjadi salah satu instrumen penting untuk memitigasi tekanan terhadap rupiah sekaligus mengantisipasi dampak ketidakpastian ekonomi global.

ÔÇ£Menurut kami, Local Currency Settlement ini merupakan satu dari inisiatif yang perlu dikembangkan. Apalagi sejak ada Liberation Day, semua negara akhirnya sadar bahwa sudah saatnya untuk melakukan ini secara bilateral,ÔÇØ kata Ruth.

Berdasarkan data BI, nilai transaksi LCT hingga April 2026 mencapai US$ 22,61 miliar atau tumbuh 309% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 7,33 miliar. Jumlah pelaku LCT juga terus meningkat hingga mencapai 5.265 per bulan pada 2026, menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan skema tersebut oleh pelaku usaha.

Saat ini, BI terus memperluas implementasi LCT dengan sejumlah negara, termasuk Singapura, India, dan Arab Saudi. ÔÇ£Meski ini baru Januari sampai April semoga volumenya terus meningkat sih terus naik baik volume maupun pelakunya,ÔÇØ tutur Ruth.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

BI-Rate Naik, Skema Insentif KLM bakal Diubah

Rupiah Terpuruk, Cuan Pelaku Usaha Mulai Tergerus

Implementasi BUMN Ekspor DSI, Kontrak Sudah Berjalan Harus Dihormati

Pelaku Pasar Saham Tidak Tolak DSI, namun Khawatir Kenaikan Risiko Kebijakan

Market 3 menit yang lalu Rupiah Terus Tertekan, Ekonom: Jangan Menyalahkan Faktor Global Ekonom menilai pelemahan rupiah dipicu faktor domestik dan global. BI didorong memperluas transaksi mata uang lokal.

Finance 23 menit yang lalu Indonesia Kembangkan National Fraud Portal, Ini Tujuannya IASC kembangkan National Fraud Portal untuk percepat penanganan penipuan. Dana korban Rp 169,3 miliar telah berhasil dikembalikan.

Market 23 menit yang lalu Siap-siap AADI, Masuk List Saham AADI atau Adaro Andalan Indonesia masuk daftar pantauan. AADI juga mau bagi dividen. Target harga saham AADI tinggi.

Business 40 menit yang lalu ASDP Bidik Rute Jakarta-Malahayati Aceh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) terus memperkuat perannya sebagai tulang punggung konektivitas antarpulau nasional.

National 1 jam yang lalu Menangis Usai Nonton Film Pesta Babi, Megawati: Gambaran Nyata Persoalan Lingkungan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri sebut film Pesta Babi gambarkan persoalan lingkungan dan masyarakat adat secara nyata.

Business 1 jam yang lalu Dolar Menguat, PHRI DIY: Okupansi Hotel Naik hingga 80%, F&B Naik 30% PHRI DIY mencatat ada dampak positif dari penguatan dolar AS terhadap rupiah, okupansi hotel naik 70-80% dan omzet F&B juga 20-30%

Tag Terpopuler

Terpopuler

Saham Lagi Murah-murahnya, Dividen Tembus Rp 376,95 per Saham Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Senin 25 Mei 2026

Artikel terkait

Rekomendasi