Nilai tukar rupiah yang terperosok hingga menyentuh angka Rp 17.500 per dollar AS pada Selasa, 12 Mei 2026, mulai memberikan tekanan nyata bagi sektor asuransi umum. Kondisi yang mendekati level psikologis Rp 18.000 ini berdampak langsung pada kenaikan biaya klaim kendaraan, harga material impor, hingga inflasi medis.
President Director & CEO PT Sompo Insurance Indonesia, Eric Nemitz, menyatakan bahwa fluktuasi mata uang menjadi tantangan besar di sepanjang tahun 2026. Hal ini diperparah dengan melambatnya ekonomi global serta ketegangan geopolitik akibat krisis Iran yang terus memanas.
"Ketika kita bicara fluktuasi nilai tukar, tentu ada dampaknya karena kami tidak hanya memiliki asuransi berbasis rupiah, tetapi juga yen Jepang dan dollar AS," ujar Eric di Jakarta seperti dikutip dari Money.
Menurut analisis Eric, pelemahan mata uang garuda ini berdampak instan terhadap biaya perbaikan atau penggantian yang melibatkan barang impor. Sektor otomotif menjadi salah satu yang paling terdampak karena ketergantungan pada suku cadang dari luar negeri yang masih sangat tinggi.
"Mobil, suku cadang, material bangunan, hingga mesin tentu akan terdampak. Itu secara langsung memengaruhi industri asuransi," kata Eric.
Eric menjabarkan bahwa risiko nilai tukar muncul saat terjadi selisih antara mata uang premi yang diterima dengan mata uang klaim yang harus dibayarkan perusahaan. Ketidakseimbangan ini sering kali sulit dihindari meskipun perusahaan sudah melakukan mitigasi risiko.
"Kalau premi dan pembayaran klaim berada dalam mata uang yang sama, dampaknya relatif kecil. Tetapi dalam praktiknya, hampir tidak pernah benar-benar seimbang 100 persen," ujar Eric.
Sebagai contoh, polis asuransi pengangkutan laut atau marine insurance biasanya menggunakan denominasi dollar AS. Jika aliran dana premi dan klaim selaras dalam mata uang asing, tekanan kurs bisa diredam, namun eksposur valuta asing secara keseluruhan tetap menjadi tantangan.
Selain beban operasional klaim, perusahaan asuransi juga harus menghadapi perubahan nilai aset dan investasi yang mereka miliki dalam mata uang asing. Nilai aset tersebut akan terus berfluktuasi mengikuti arah pergerakan kurs di pasar spot.
Menghadapi situasi ekonomi yang menantang, Sompo Insurance mulai mengalihkan fokus bisnis ke sektor yang dianggap lebih kebal terhadap krisis. Lini asuransi kesehatan dan perlindungan risiko personal kini menjadi prioritas utama perusahaan.
Eric berpendapat bahwa sektor kendaraan, perjalanan, dan properti sangat bergantung pada daya beli masyarakat yang rentan saat ekonomi melambat. Berbeda dengan kesehatan, kebutuhan masyarakat terhadap layanan medis cenderung stabil dalam kondisi apa pun.
"Orang mungkin menunda membeli mobil baru ketika ekonomi melemah, tetapi orang tidak berhenti pergi ke rumah sakit hanya karena ekonomi sedang turun," kata Eric.
Penurunan aktivitas ekspor-impor serta investasi asing di Indonesia juga dinilai mulai menekan permintaan pada segmen asuransi komersial. Eric menegaskan bahwa laju pertumbuhan industri asuransi umum pada dasarnya selalu beriringan dengan dinamika aktivitas ekonomi nasional.
Strategi bertahan Sompo saat ini adalah mencari ceruk pasar yang masih minim layanan atau undersupply. Segmen seperti ini dianggap memiliki ruang pertumbuhan yang lebih luas dan tidak terlalu sensitif terhadap siklus ekonomi makro yang tidak stabil.
"Kalau kami menemukan segmen yang masih undersupply, di situ masih ada ruang pertumbuhan dan dampaknya terhadap siklus ekonomi menjadi lebih kecil," ujar Eric.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pelemahan rupiah hingga level Rp 17.500 dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kebutuhan domestik. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai pemicu utama.
"Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat," ujar Destry.
Selain faktor geopolitik yang menaikkan harga minyak dunia, BI juga mengidentifikasi adanya lonjakan permintaan valuta asing secara musiman di dalam negeri. Kebutuhan dollar AS meningkat tajam untuk keperluan pembayaran utang luar negeri dan pembagian dividen korporasi.
Peningkatan permintaan valas juga didorong oleh kebutuhan masyarakat yang akan menunaikan ibadah haji pada periode tersebut. Semua faktor ini berkontribusi menciptakan tekanan suplai dan permintaan yang membuat nilai tukar rupiah terus terdepresiasi.