Kenaikan harga barang akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kini mengancam daya beli masyarakat hingga ke tingkat desa. Tekanan ekonomi tersebut terjadi karena mayoritas sektor industri di Indonesia masih bergantung pada pasokan bahan baku impor, seperti dilansir dari Nasional.
Ketergantungan terhadap material impor ini memicu lonjakan biaya produksi yang dibebankan pada harga jual produk di pasar. Dampak finansial ini dinilai menekan kemampuan konsumsi warga sekaligus menggerus nilai upah riil yang diterima oleh para pekerja.
"Seluruh rakyat termasuk masyarakat di desa akan terdampak dengan pelemahan rupiah karena harga barang naik," kata Timboel dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Kondisi keuangan perusahaan juga ikut terancam akibat pembengkakan biaya impor tersebut. Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala yang lebih besar mengintai para buruh apabila pihak manajemen gagal menjaga stabilitas arus kas operasional mereka.
"Perusahaan yang tidak mampu mengatasi masalah cash flow karena pelemahan rupiah akan mengurangi pekerja, terjadi PHK yang lebih besar," katanya.
Selain masalah operasional pabrik, situasi ini diperparah oleh sikap sejumlah pimpinan serikat pekerja yang dinilai tidak lagi kritis terhadap kebijakan pemerintah. Beberapa aktivis buruh ditengarai cenderung pasif setelah menerima berbagai fasilitas seperti jabatan formal, keterlibatan dalam agenda seremonial, hingga pengiriman delegasi ke forum International Labour Conference (ILC) di Jenewa.
Padahal, penurunaan daya beli, penurunan upah riil, serta ancaman PHK massal saat ini sedang menjadi tantangan serius yang dapat memperluas angka kemiskinan di kalangan kaum pekerja.