Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan pelemahan IHSG dipicu tekanan pada sejumlah sektor utama, terutama saham komoditas dan konglomerasi yang mengalami penurunan signifikan.
Menurut dia, pasar juga dibebani pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh level terburuk di Rp17.723 per dolar AS.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing atau capital outflow.
Purbaya Beri Tenggat 6 Bulan untuk Dana WNI di Luar Negeri Masuk ke Indonesia
Pemerintah memberi tenggat waktu enam bulan bagi WNI yang menyimpan dana di luar negeri untuk membawa masuk dan melaporkannya ke dalam negeri.
Simak Prospek Bumi Resources (BUMI) Usai Labanya Meningkat
Hari Ini Pengumuman Rebalancing MSCI, OJK Sebut Dua Saham Berpotensi Ditendang
Dari sisi teknikal, Reza menilai IHSG masih berada dalam tren bearish. Pelemahan terbaru membuat indeks kembali membentuk lower low disertai peningkatan volume jual.
Ia memperkirakan IHSG bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah, dengan area support di kisaran 6.100ÔÇô6.300 dan resistance pada 6.500ÔÇô6.600.
Selain tekanan rupiah, pasar juga mencermati potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5% dalam Rapat Dewan Gubernur BI.
Menurut Reza, langkah tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi pasar saham, meski di sisi lain dapat membantu menjaga stabilitas rupiah.
Pandangan serupa disampaikan Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana. Ia menilai IHSG masih rawan melanjutkan koreksi dengan support di level 6.300 dan resistance di 6.424.
Herditya menambahkan, tekanan pasar juga dipengaruhi sentimen revisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam serta rencana pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis.
Di tengah tekanan pasar, Reza merekomendasikan saham TLKM dan BBNI untuk dicermati investor.
Sementara saham MYOR direkomendasikan untuk trading buy pada kisaran Rp1.770 hingga Rp1.800.