Sejumlah pedagang siomay di kawasan Jakarta Barat terpaksa mencampur bahan baku daging ikan tenggiri dengan bahan lain akibat lonjakan harga yang signifikan pada Senin (20/4/2026). Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas harga jual di tingkat konsumen.
Melonjaknya harga bahan baku tersebut membuat produsen tidak lagi menggunakan daging ikan tenggiri secara penuh dalam adonan mereka. Fenomena ini dilaporkan terjadi di wilayah Cengkareng dan Palmerah sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Wandi, seorang pedagang yang telah berjualan selama 25 tahun di Cengkareng, mengungkapkan bahwa dirinya kini menggunakan campuran tepung dan daging ayam. Ia mengakui sulit mempertahankan penggunaan ikan tenggiri murni setelah membuka usaha mandiri selama satu dekade terakhir.
"Kalau sekarang ya enggak 100 persen tenggiri juga sih. Dicampur kan pakai tepung, terus pernah juga nyoba dicampur daging ayam. Tapi kalau pakai sapu-sapu alhamdulillah saya enggak pernah," ujar Wandi.
Tingginya harga beli ikan tenggiri di pasar menjadi kendala utama bagi para pedagang kecil untuk tetap kompetitif. Wandi menyebut selisih harga antara ikan tenggiri dan jenis ikan lain seperti ikan sapu-sapu menjadi alasan beberapa oknum beralih bahan baku.
"Kalau pakai sapu-sapu itu saya pernah tahu ada yang jual Rp 25.000 atau Rp 35.000 gitu, nah kalau ikan tenggiri itu dia bisa sampai hampir Rp 100.000. Lumayan kan (selisihnya)," kata Wandi.
Wandi pun menyatakan dukungannya terhadap pengawasan pemerintah kepada oknum yang menggunakan ikan sapu-sapu demi keuntungan pribadi. Namun, ia menekankan agar penindakan tersebut tidak merugikan keberlangsungan ekonomi pedagang kecil secara umum.
"Ya saya sih setuju-setuju aja, tapi asal jangan sampai dimatikan aja usahanya. Kan sama-sama cari duit, sama-sama pedagang," tutur Wandi.
Di lokasi berbeda, Angga yang berjualan di Kemanggisan memilih mencampur ikan tenggiri dengan ikan tuna. Menurutnya, penggunaan ikan tuna merupakan solusi paling efisien untuk menekan biaya operasional tanpa merusak kualitas tekstur dan rasa siomay.
"Kalau saya itu kerja juga, ada bosnya di PIK, ini pakainya tenggiri sama tuna, tuh, dagingnya cerah warnanya agak putih, empuk ini dijamin," kata Angga.
Angga menjelaskan bahwa strategi mencampur bahan baku bertujuan agar harga jual di masyarakat tetap stabil pada kisaran Rp 10.000 per porsi. Ia menilai kualitas tuna jauh lebih baik dibandingkan ikan sapu-sapu yang berbau amis kuat dan berwarna gelap.
"Kan biar harganya juga enggak naik, orang kan standarnya kalau siomay itu seporsi Rp 10.000, sekarang masih, enggak naik," ucap Angga.
Kombinasi ikan tuna dianggap tetap memberikan rasa premium pada produk olahannya meski harga bahan baku utama sedang mahal. Angga berpendapat tekstur kenyal siomay masih bisa dipertahankan dengan proporsi campuran ikan yang tepat.
"Kalau setahu saya pakai tuna itu enggak ngubah rasa nya, kadang kalau tepung kan jadi agak beda ya. Kalau pakai tuna itu rasanya tetap enak, kayak siomay yang mahal-mahal biasanya," tutup Angga.