Sejumlah pedagang siomay di Jakarta menanggapi keresahan masyarakat terkait penggunaan daging ikan sapu-sapu liar sebagai bahan dasar olahan pangan demi menghemat biaya produksi pada Senin (20/4/2026). Fenomena ini dipicu oleh tingginya harga ikan tenggiri yang menjadi bahan baku utama di pasar, sebagaimana dilansir dari Megapolitan.
Wandi, seorang pedagang siomay di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, mengungkapkan bahwa desakan ekonomi memaksa sebagian oknum untuk beralih ke bahan yang lebih murah. Perbedaan harga antara ikan sapu-sapu dan tenggiri mencapai lebih dari dua kali lipat.
"Ada lah udah enggak usah saya rahasiakan juga semua orang pasti udah tahu, ya memang ada aja sih yang kayak gitu, tapi saya enggak ya," ucap Wandi saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (20/4/2026).
Wandi menambahkan bahwa oknum penjual tertarik menggunakan jenis ikan tersebut karena bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp25.000 hingga Rp35.000. Angka tersebut jauh di bawah harga ikan tenggiri yang menyentuh angka Rp100.000 per kilogram.
"Kalau pakai sapu-sapu itu saya pernah tahu ada yang jual Rp 25.000 atau Rp 35.000 gitu, nah kalau ikan tenggiri itu dia bisa sampai hampir Rp 100.000. Lumayan kan (selisihnya)," ungkapnya.
Wandi saat ini mengelola dua gerobak dan memilih untuk mencampur adonan dengan bahan lain seperti tepung atau daging ayam guna menyiasati modal. Ia menegaskan tidak pernah menggunakan ikan sapu-sapu dalam adonannya.
"Kalau sekarang ya enggak 100 persen tenggiri juga sih. Dicampur kan pakai tepung, terus pernah juga nyoba dicampur daging ayam. Tapi kalau pakai sapu-sapu alhamdulillah saya enggak pernah," ujarnya.
Strategi efisiensi biaya juga dilakukan oleh Angga, pedagang siomay di Palmerah, Jakarta Barat, yang menggunakan campuran ikan tuna. Menurutnya, penggunaan tuna jauh lebih aman dan tetap menjaga kualitas rasa dibandingkan ikan liar.
"Kalau saya itu kerja juga, ada bosnya di PIK, ini pakainya tenggiri sama tuna, tuh, dagingnya cerah warnanya agak putih, empuk ini dijamin," kata Angga.
Angga berpendapat bahwa penambahan tuna tidak mengubah cita rasa asli siomay seperti yang dialami jika menggunakan campuran tepung berlebih. Hasil produksinya diklaim memiliki kualitas yang setara dengan produk kelas atas.
"Kalau setahu saya pakai tuna itu enggak ngubah rasanya, kadang kalau tepung kan jadi agak beda ya. Kalau pakai tuna itu rasanya tetap enak, kayak siomay yang mahal-mahal biasanya," tuturnya.
Terkait cara membedakan produk, Angga menjelaskan bahwa siomay yang menggunakan ikan sapu-sapu memiliki karakteristik fisik yang khas. Produk tersebut biasanya memiliki warna yang lebih gelap serta aroma amis yang sangat kuat.
"Siomay yang pakai sapu-sapu biasanya rasanya lebih alot dia, keras, lebih amis juga," jelas Angga.
Wandi menambahkan bahwa tekstur daging juga menjadi pembeda utama yang bisa dirasakan konsumen saat mengunyah. Daging ikan sapu-sapu cenderung terasa lengket di mulut dibandingkan dengan daging tenggiri asli.
"Kalau saya tuh dulu ikut bos, dia dagingnya tenggiri, saya tau itu pakainya tenggiri, soalnya beda dia rasanya kentara, terus enggak lengket, kalau sapu-sapu pasti agak lengket," ucap Wandi.
Para pedagang menyatakan dukungan mereka terhadap rencana pemerintah untuk memperketat pengawasan terhadap pangan olahan. Angga menilai perlindungan konsumen sangat penting jika bahan baku yang digunakan terbukti mengandung zat berbahaya.
"Saya jujur sih enggak tahu juga ya, tapi kalau memang dia bahaya, mengandung apa itu yang bahaya, ya sebaiknya jangan lah, apalagi kalau diambil dari kali kan sapu-sapunya," ujar Angga.
Meski mendukung regulasi, Wandi menyampaikan aspirasi agar proses penertiban nantinya tidak merugikan kelangsungan hidup para pedagang kecil. Ia berharap pengawasan dilakukan secara bijak tanpa mematikan mata pencaharian mereka.
"Ya saya sih setuju-setuju aja, tapi asal jangan sampai dimatikan aja usahanya. Kan sama-sama cari duit, sama-sama pedagang," tutup Wandi.