Lonjakan harga daging sapi melanda Pasar Anyar, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (21/5/2026) hingga mencapai Rp145.000 per kilogram dari sebelumnya yang berada di angka Rp130.000 per kilogram. Kenaikan harga komoditas impor tersebut dilansir dari Megapolitan terjadi sejak Hari Raya Idulfitri 2026.
Kondisi ini menurunkan daya beli masyarakat secara drastis sehingga banyak konsumen yang membatalkan niat berbelanja karena tingginya harga jual. Penurunan omzet memaksa sejumlah pedagang memotong volume barang dagangan mereka hingga separuh dari pasokan harian.
Seorang pedagang daging di pasar tersebut, Ilyas (32), menjelaskan situasi pasar setelah momen Lebaran berlalu.
"Itu tuh dari Lebaran Idul Fitri berarti terakhir naik. Biasanya habis Lebaran Idul Fitri biasanya kan turun, dari Rp 130.000 harganya sekarang malah Rp 145.000," kata Ilyas.
Kondisi harga yang tidak kunjung normal pasca-hari raya dinilai sangat mengganggu stabilitas penjualan harian.
"Kemahalan, daya belinya jadi lemah. Orang jadi mikir dua kali kalau mau beli. Normalnya kan Rp 130.000, kalau normal," lanjut Ilyas.
Untuk mengantisipasi kerugian, Ilyas mengurangi stok dagangannya dari biasanya 60 kilogram menjadi hanya sekitar 30 kilogram per hari. Ia membeberkan perhitungan modal operasionalnya yang diambil dari Rumah Potong Hewan (RPH) Bubulak sebesar Rp135.000.
"Kita kalau pengin untung, jualnya Rp 150.000. Cuma konsumen pada enggak mau. Jadi kalau pengin stabil, Rp 150.000 jualnya tapi konsumen terlalu berat," ujar Ilyas.
Dilema harga ini membuat pedagang terpaksa bertahan dengan margin keuntungan yang sangat tipis demi menjaga loyalitas pelanggan.
"Mau gimana lagi. Kita kan ini porsinya porsi bertahan. Enggak jualan bingung, jualan juga bingung. Mending jualan dulu aja," jelas Ilyas.
Ilyas mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini disebabkan oleh ketergantungan pada sapi bakalan (BX) asal Australia yang transaksinya menggunakan mata uang asing.
"Ini kan imbas dari dolar, kita kan belinya beli impornya dolar kan, tapi kan sapinya sapi impor kan, kalau pedagang semua pasar anyar itu, semua pasar itu, pasar tradisional jualnya sapi-sapi impor," kata Ilyas.
Keluhan serupa turut disampaikan oleh pedagang lain, Dani (22), yang juga merasakan lonjakan harga jual dari kisaran awal Rp125.000 hingga Rp130.000 per kilogram.
"Saya jual daging Rp 145.000, ke langganan Rp 140.000," kata Dani.
Setiap hari, pelanggan dari pedagang lokal ini kerap menyampaikan keberatan karena harga komoditas yang tidak kunjung melandai.
"Pastinya sih ada aja tiap hari, 'Masa Lebarannya udah habis tapi harganya belum turun?' kayak gitu," tambah Dani.
Dani memilih untuk mempertahankan harga jual pada batas tersebut agar jaringannya tidak beralih ke tempat lain.
"Enggak mau banding harga, takut kecewa pelanggan," ujar Dani.
Ia juga membenarkan bahwa pasokan komoditas yang dipasarkannya di wilayah Bogor tersebut sepenuhnya bergantung pada pasokan impor dari Australia.
"Kan ini sapi BX ya dari Australia. Kan sapinya impor, tapi pemotongannya di Indonesia, di Bubulak," ujar tambah Dani.