Praktik kecurangan oleh oknum pedagang nakal masih membayangi pasar mobil bekas di Depok, Jawa Barat, awal pekan ini, sehingga memicu peningkatan kebutuhan konsumen terhadap jasa inspeksi kendaraan independen, dilansir dari Otomotif.
Persoalan seperti manipulasi angka odometer, penyembunyian riwayat kecelakaan, hingga penyamaran kondisi fisik kendaraan menjadi penyebab utama pudarnya kepercayaan pembeli. Penjual mobil bekas dari Willies Mobil di Depok, Singgih, membenarkan bahwa kecemasan konsumen mengenai kondisi unit di showroom sudah berlangsung sejak lama.
"Kalau masalah yang berkaitan dengan inspektor begitu ya, konsumen takut diakalin oleh showroom, itu dari dulu, dari zaman saya balum dagang mobil (bekas) juga ada ketakutan itu, datang ke showroom dan mobil sudah diakal-akalin," ujar Singgih kepada Kompas.com, awal pakan ini di Depok, jawa Barat.
Menurut Singgih, tindakan mengubah data kendaraan bukan merupakan fenomena baru dalam bisnis mobil seken dan hingga kini masih terus berjalan.
"Kilometer direndahin, mobil bekas tabrak dibilang aman, yang nakal dan tidak nakal sudah ada dari dulu. Sekarang pun juga masih ada. Banyak yang masih mundurin kilometer," kata Singgih.
Penurunan angka kilometer tersebut bahkan dinilai semakin mengkhawatirkan karena penawaran jasanya kini dapat diakses secara bebas oleh siapa saja melalui platform digital.
"Justru sekarang jasa mundurin kilometer juga ada, cari di marketplace ada. Jangankan pedagang, konsumen yang mau jual sendiri dan mau menurunkan kilometer cari saja di Facebook, banyak. Bahkan istilahnya konsumen bener dan nakal juga ada sampai sekarang," ujar Singgih.
Pemanfaatan jasa pemeriksaan independen dipandang sebagai solusi efektif bagi konsumen awam untuk memverifikasi keaslian kondisi unit. Singgih menambahkan bahwa pelaku usaha yang jujur pasti bersedia memberikan akses penuh bagi para inspektor untuk melakukan pemindaian secara mendalam.
"Tapi kalau pedagang nakal pasti sudah menolak inspektor. Sekarang logikanya begini, dia mau jual barang busuk dengan penilaian objektif, tanpa dibacain detail, orang yang sudah tahu cara pengecekan mobil pasti sudah mundur," kata Singgih.
Sikap kooperatif terhadap kehadiran tenaga pemeriksa luar juga ditunjukkan oleh pelaku usaha lain di kawasan Kelapa Dua, Depok. Pemilik showroom Elite Car, Rio Ferdiansyah, menyatakan dukungan mereka terhadap keberadaan pihak ketiga tersebut demi memberikan jaminan kualitas.
"Hadirnya mereka (inspektor) justru bisa membantu konsumen, dan pihak showroom dalam menghadirkan unit yang sesuai dengan harapan konsumen, kami terbuka," ucap Rio.
Meskipun mendukung penuh proses pengecekan, Rio memberikan catatan agar para pemeriksa tetap objektif dalam menyampaikan laporan evaluasi dengan mengingat status kendaraan yang diperiksa.
"Bukan tidak boleh menyampaikan komponen yang mulai aus, tapi tolong disampaikan dengan benar, misal kondisinya sudah aus 70 persen, artinya komponen tersebut masih bisa dipakai, bukan harus diganti," ucap Rio.