Lapak jual beli emas informal di sepanjang Jalan Senen dan Jalan Senen III, Jakarta Pusat, tetap menjadi pilihan warga untuk mencairkan perhiasan secara cepat pada Selasa (14/4/2026). Para pedagang di kawasan ini menawarkan kemudahan transaksi tanpa persyaratan administratif ketat sebagaimana toko perhiasan modern atau lembaga keuangan resmi.
Eksistensi pasar emas jalanan ini dilansir dari Megapolitan tetap terjaga di tengah fluktuasi harga logam mulia dunia. Meskipun hanya bermodalkan meja kayu dan kotak kaca kecil, aktivitas perdagangan di trotoar tersebut berlangsung hampir tanpa henti guna melayani masyarakat yang membutuhkan dana darurat.
Penjaga lapak emas yang telah beroperasi selama satu dekade, Limbong, menjelaskan keunggulan utama jasanya dibandingkan toko konvensional. Ia menyebutkan bahwa faktor kemudahan menjadi daya tarik utama bagi para pelanggan yang tidak memiliki dokumen lengkap atas perhiasan mereka.
"Kalau di toko, biasanya kalau nggak ada suratnya mereka nggak mau beli. Nah, kalau di sini, walaupun nggak ada surat, kita mau beli," kata Limbong (45), pedagang emas yang sudah 10 tahun menjaga lapak saat ditemui Kompas.com, Selasa (14/4/2026).
Jumlah pedagang emas di area tersebut mengalami penyusutan signifikan dibandingkan beberapa dekade lalu. Limbong mengenang masa ketika puluhan rekan seprofesinya memadati jalur pejalan kaki hingga ke arah rumah sakit setempat.
"Dulu di sini penuh, bisa sampai 30 orang yang berjajar sampai ke arah rumah sakit. Sekarang tinggal sekitar sembilan orang saja di area Senen ini," ujar Limbong.
Metode pengujian yang digunakan masih mempertahankan tradisi lama dengan bantuan cairan asam nitrat dan batu uji hitam. Meskipun teknologi penerangan telah berubah, peralatan dasar untuk menentukan kadar emas tetap serupa dengan generasi sebelumnya.
"Iya, ciri khasnya dari dulu begini. Bedanya, kalau dulu pakai lilin, sekarang sudah pakai lampu kalau malam," kata dia.
Proses identifikasi dilakukan langsung di hadapan konsumen untuk menentukan apakah logam tersebut asli atau hanya lapisan. Limbong menggunakan dua jenis cairan penguji untuk membedakan kadar emas sebelum masuk ke tahap negosiasi harga.
"Kita tes dulu, kita uji kadarnya berapa. Digosok di batu, pakai air penguji. Ada air menguji emas atau bukan, dan air menguji kadar emas ada dua jenis, Acid 1 dan Acid 2," kata Limbong.
Keuntungan dari setiap transaksi bervariasi tergantung pada dinamika pasar dan kesepakatan dengan penjual. Limbong mengaku bisa mendapatkan margin tertentu dari setiap emas yang berhasil dibeli.
"Sekali transaksi saya bisa ambil Rp 200.000 lebih lah," kata dia.
Alasan efisiensi prosedur seringkali menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih lapak jalanan ini. Menurut pengamatan di lapangan, banyak konsumen yang merasa terbebani oleh syarat administratif di toko emas resmi.
"Kebanyakan orang tuh kadang membandingkan nih di toko kan ribet penjualannya, kalau ke saya gampang," ujar dia.
Seluruh logam mulia yang dibeli dari warga nantinya akan disalurkan kembali ke pihak pemilik modal. Emas tersebut biasanya akan dilebur untuk diproduksi ulang menjadi bentuk perhiasan baru.
"Nanti setelah saya beli baru saya kasih ke bos, kalau emasnya tua. Nanti bos saya yang olah lah, dilebur lagi jadi emas, kaya cincin, kalung dan lainnya di toko dia," ujar Limbong.
Transaksi di kawasan Senen juga mencakup pembelian dalam volume besar, terutama yang melibatkan pelanggan dari mancanegara. Limbong mengeklaim pernah melihat perdagangan logam mulia hingga satuan kilogram.
"Orang Arab kan seringnya di sini, belum setengah kilo, seberapa kilo," kata Limbong.
Pedagang lain di jalur pejalan kaki Jembatan Multiguna Senen, Poman, memiliki fokus pada pembelian emas dalam kondisi tidak sempurna. Ia menampung perhiasan yang mengalami kerusakan fisik atau cacat produksi.
"Nanti saya jual lagi ke Bos. Bos itulah yang nanti ngelebur emasnya untuk dijadikan perhiasan lagi," kata Poman saat ditemui.
Poman berpendapat bahwa keberadaan mereka membantu warga yang perhiasannya mengalami penurunan nilai drastis di toko resmi akibat kerusakan. Sistem perhitungan di lapak jalanan lebih menitikberatkan pada berat dan kadar logam.
"Kita tidak pakai surat. Justru kami membantu menampung emas yang cacat atau patah yang biasanya kalau di toko potongannya besar sekali," ujar dia.
Meski terdapat pedagang yang beroperasi hingga dini hari, risiko keamanan tetap menjadi perhatian utama. Poman memilih untuk membatasi waktu operasional guna menghindari potensi tindak kriminalitas.
"Iya, ada yang sampai menginap di situ nungguin. Tapi hati-hati kalau jualan atau transaksi malam hari, rawan kejahatan. Makanya biasanya jam 19.00 WIB itu batasnya, sudah harus tutup," kata Poman.
Kerugian finansial akibat penipuan emas lapisan menjadi risiko yang sering dialami oleh para pedagang. Poman menceritakan pengalamannya kehilangan jutaan rupiah karena logam yang hanya memiliki semprotan emas di bagian luar.
"Wah, sering! Kebanyakan kena tipu emas lapisan. Luarnya emas, dalamnya bukan," ujar dia.
Bahkan, beberapa pedagang disebut pernah mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah dalam satu kali transaksi yang salah. Poman sendiri pernah merasakan dampak ekonomi dari modus penipuan tersebut.
"Pernah, namanya emas lapisan. Di luarnya disemprot emas, tapi pas kita potong atau gosok dalamnya bukan emas. Saya pernah rugi sampai Rp 10 juta, bahkan ada yang sampai Rp 20 juta," kata Poman.
Tindakan penertiban oleh petugas keamanan juga menjadi tantangan rutin bagi kelangsungan usaha di trotoar. Namun, desakan ekonomi membuat Poman tetap bertahan menjalankan praktik jual beli ini.
"Tapi ya bagaimana, namanya kita cari makan buat anak istri. Daripada minta-minta, mending usaha jual-beli begini," ujarnya.
Bagi konsumen seperti Onah (40), kecepatan dalam mendapatkan uang tunai menjadi faktor krusial saat menghadapi kebutuhan mendesak. Ia tidak keberatan dengan sedikit perbedaan harga selama transaksi bisa diselesaikan dengan cepat.
"Karena lebih gampang aja. Kalau di toko itu ribet, banyak syarat. Kadang kita cuma mau jual cepat, tapi ditanya surat, nota, kartu pembelian," kata Onah.
Onah menambahkan bahwa meskipun harga di pasar formal mungkin lebih baik, aksesibilitas dana menjadi prioritasnya. Ia seringkali menjual asetnya di lapak jalanan ketika memerlukan likuiditas segera.
"Kalau butuh uang mendadak, mau harga sedikit beda juga enggak masalah," ujar dia.
Yaini (35), pelanggan lainnya, sering memanfaatkan lapak Senen untuk menjual perhiasan yang sudah tidak layak pakai. Sebagian besar barang yang dijualnya adalah sisa investasi keluarga di masa lalu.
"Biasanya saya jual perhiasan yang udah rusak, kayak gelang yang putus atau cincin yang udah penyok. Kadang juga anting yang udah enggak kepakai," kata Yaini.
Pengamat ekonomi Indef, M Rizal Taufikurahman, berpendapat bahwa fenomena ini merupakan konsekuensi dari naiknya harga emas global pada 2026 ke level 2.200ÔÇô2.300 dollar AS per troy ounce. Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah di kisaran Rp 17.000 per dollar AS memicu masyarakat untuk mencari kanal likuiditas yang fleksibel.
"Pasar informal menjadi kanal distribusi yang lebih fleksibel dan cepat menangkap lonjakan permintaan, terutama karena biaya transaksi rendah dan tidak rigid seperti toko resmi," kata Rizal.
Rizal juga menyoroti bahwa ketergantungan masyarakat pada pasar informal ini menunjukkan adanya masalah kepercayaan terhadap sistem formal. Ia menyarankan perbaikan akses pasar resmi daripada sekadar melakukan penertiban fisik.
"Fenomena pedagang emas jalanan lebih mencerminkan keterbatasan akses dan trust terhadap pasar formal dibanding sekadar pilihan ekonomi," kata Rizal.
Sementara itu, Corporate Secretary Antam, Wisnu Danandi, menyatakan bahwa harga produk mereka sepenuhnya bergantung pada dinamika global dan nilai kurs. Antam tidak memegang kendali atas penetapan harga yang digunakan oleh pedagang-pedagang independen di lapangan.
"Harga emas dunia menjadi referensi utama. Pergerakan harga global dipengaruhi kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga bank sentral, tingkat inflasi, serta ketidakpastian geopolitik," ujar Wisnu.