Pedagang Emas Kaki Lima Senen Hubungkan Warga dan Industri Perhiasan

Pedagang Emas Kaki Lima Senen Hubungkan Warga dan Industri Perhiasan
Foto: Ilustrasi Pedagang Emas Kaki Lima Senen Hubungkan Warga dan Industri Perhiasan.

Pedagang emas kaki lima di kawasan trotoar Jalan Senen III, Jakarta Pusat, menjadi motor penggerak awal mata rantai industri logam mulia dengan melayani transaksi jual beli perhiasan rusak pada Selasa (14/4/2026). Kehadiran para penyedia jasa informal ini memungkinkan masyarakat mendapatkan akses keuangan cepat melalui perhiasan yang tidak lagi utuh.

Aktivitas ekonomi di pinggir jalan ini menjadi hulu dari proses panjang pengolahan kembali emas di ibu kota sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Emas rongsokan yang terkumpul dari warga disalurkan kembali ke pemodal besar untuk dilebur menjadi perhiasan baru siap jual.

Poman, salah satu pedagang emas yang telah berusia 60 tahun di kawasan tersebut, menjelaskan perannya yang fokus pada pengumpulan barang cacat. Ia beroperasi hanya dengan modal peralatan uji sederhana dan gerobak kecil tanpa etalase mewah seperti toko perhiasan pada umumnya.

"Saya hanya beli. Barang yang saya beli itu yang rongsokan, yang patah-patah atau cacat. Nanti saya jual lagi ke bos. Bos itulah yang ngelebur emasnya," ujar Poman, pedagang emas pinggir jalan di kawasan Jalan Senen III.

Meski terlihat sederhana, risiko finansial yang dihadapi para pedagang di lini terdepan ini tergolong sangat tinggi. Mereka sering kali berhadapan dengan perhiasan palsu yang memiliki lapisan luar menyerupai emas murni namun berisi logam murah di bagian dalamnya.

"Pernah rugi sampai Rp 10 juta, bahkan ada yang sampai Rp 20 juta," kata Poman menambahkan mengenai tantangan usahanya.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, memberikan pandangan mengenai fenomena tumbuhnya ekosistem pasar informal ini. Menurutnya, pasar tersebut sangat responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang menginginkan efisiensi biaya dan kecepatan dalam bertransaksi.

"Pasar informal menjadi kanal distribusi yang lebih fleksibel dan cepat menangkap lonjakan permintaan, terutama karena biaya transaksi rendah dan tidak rigid seperti toko resmi," ujar M Rizal Taufikurahman.

Faktor kecepatan dan kemudahan syarat menjadi alasan utama konsumen beralih ke lapak trotoar dibandingkan toko resmi. Onah, seorang warga berusia 40 tahun, mengakui bahwa prosedur di toko formal sering kali dianggap menyulitkan bagi mereka yang membutuhkan dana mendesak.

"Kalau di toko itu ribet, banyak syarat. Kadang kita cuma mau jual cepat," kata Onah saat ditemui di lokasi.

Sistem ekonomi di trotoar Senen ini terus bergerak dalam senyap namun tetap menentukan arah perjalanan logam mulia di pasar yang lebih luas. Emas yang disortir di lapak sederhana ini nantinya akan kembali masuk ke etalase toko-toko besar setelah melalui proses peleburan ulang.

Artikel terkait

Rekomendasi