Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Savic Ali meyakini pihak Istana tidak akan mencampuri persaingan perebutan kursi ketua umum PBNU pada Muktamar ke-35 mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara bincang-bincang pada Sabtu (16/5/2026), sebagaimana dilansir dari Nasional.
Savic Ali menilai Presiden Republik Indonesia saat ini, Prabowo Subianto, dapat menjalin komunikasi dengan siapapun figur yang nantinya terpilih sebagai pemimpin organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia tersebut. Namun, ia tidak menampik adanya kepentingan dari kepala negara terhadap PBNU.
"Saya kira dalam konteks Presiden (Prabowo), kalau dia bisa nyambung dengan siapapun figurnya, ngapain dia ikut-ikutan? Siapapun nanti yang jadi (ketua umum PBNU) kan bisa diajak ngobrol," ujar Savic Ali, Ketua PBNU.
Keterlibatan pihak luar, terutama pemerintah, dinilai dapat memicu penolakan dari internal organisasi. Para kiai NU disebut memiliki trauma sejarah terkait intervensi penguasa yang pernah terjadi pada pelaksanaan muktamar di masa lampau.
"Saya kira ngapain Istana berkepentingan untuk mendukung salah satu calon misalnya? Apalagi NU itu punya trauma dengan keterlibatan Istana di muktamar kan, kita tahu bagaimana cerita tentang Muktamar Cipasung jaman Pak Harto, di mana Pak Harto berkepentingan untuk menggagalkan Gus Dur untuk terpilih lagi, artinya banyak kiai NU punya trauma dengan itu dan justru bisa resisten," papar Savic Ali.
Selain membahas potensi intervensi, dinamika internal menjelang muktamar juga diwarnai dengan munculnya nama-nama kandidat dari unsur pemerintahan. Muncul kabar burung di lingkungan internal mengenai ketertarikan pejabat aktif kabinet untuk memimpin organisasi.
"Saya dengar bahwa Menteri Agama infonya juga berkepentingan, berminat untuk menjadi ketua umum PBNU. Tapi ya lagi-lagi kalau mau jadi ketua umum PBNU ya mundur jadi menteri," tutur Savic Ali.
Kabar tersebut merujuk pada Menteri Agama Kabinet Merah Putih, Nasaruddin Umar, yang diisukan bakal masuk dalam bursa pemilihan ketua umum PBNU. Selain nama Menteri Agama, spekulasi lain juga menerpa tokoh politik nasional terkait potensi pencalonan mereka.
"Saya enggak tahu, tapi saya enggak yakinlah Cak Imin mau maju. Saya enggak tahu, kecuali ada pihak-pihak yang mungkin ingin Cak Imin tak lagi jadi ketua PKB," imbuh Savic Ali.
Pernyataan tersebut menanggapi isu mengenai kemungkinan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar ikut serta menjadi salah satu kandidat ketua umum dalam Muktamar PBNU ke-35.