Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk keras lonjakan drastis serangan udara militer Israel di Lebanon yang menewaskan sedikitnya delapan warga sipil saat Hari Raya Iduladha, Jumat (29/5/2026).
Aksi pengeboman masif tersebut dilaporkan menghantam wilayah Beirut selatan serta menghebat di sepanjang kawasan Lebanon selatan dan timur, hingga memicu gelombang pengungsian massal baru.
Informasi mengenai lonjakan serangan dan jatuhnya korban jiwa di pihak sipil ini turut dilansir dari Investor Daily berdasarkan laporan resmi Kantor Berita Nasional Lebanon.
<"Kami kembali mendesak semua pihak untuk menghormati penghentian permusuhan dan menghentikan serangan lebih lanjut. Kami menegaskan kembali bahwa warga sipil dan infrastruktur sipil tidak boleh menjadi sasaran. Kami mengutuk keras jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil," tegas Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, Juru Bicara PBB.
Dujarric menjelaskan bahwa Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mencatat sekitar 670 lintasan proyektil di wilayah perbatasan sejak kesepakatan penghentian permusuhan bermediasi Amerika Serikat berlaku pada 17 April 2026.
Volume serangan tersebut menjadi rekor tertinggi yang diiringi aktivitas militer intensif Israel, mulai dari pergerakan kendaraan lapis baja hingga laporan infiltrasi darat di utara Sungai Litani.
Situasi kemanusiaan yang memburuk pasca-perintah evakuasi dalam 48 jam terakhir juga berimbas pada ratusan ribu warga di selatan Sungai Zahrani, termasuk penduduk kota Tyre dan Nabatieh.
<"Keluarga-keluarga di sana kembali dipaksa melarikan diri dari rumah mereka dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi dan tidak tertahankan," kata Stephane Dujarric, Juru Bicara PBB.
Posisi pusat-pusat pengungsian kolektif di wilayah Tyre dan Sidon saat ini dilaporkan telah melampaui kapasitas tampung akibat terus bertambahnya gelombang warga sipil yang melarikan diri.