Dewan Keamanan PBB meluncurkan unit keamanan baru bernama Gang Suppression Force (GSF) untuk meredam kekerasan geng di Haiti setelah misi sebelumnya dinilai gagal. Langkah ini diambil guna merebut kembali wilayah ibu kota Port-au-Prince yang kini dikuasai kelompok bersenjata hingga 90 persen.
Dilansir dari Media Indonesia, krisis keamanan di negara tersebut telah menyebabkan 1,4 juta warga mengungsi dan menelan ribuan korban jiwa akibat serangan senjata serta drone. GSF hadir dengan mandat yang lebih agresif dibandingkan Misi Dukungan Keamanan Multinasional (MSS) yang dipimpin oleh Kenya.
Monique Methellus Paul, seorang warga Kenscoff berusia 52 tahun, menjadi salah satu korban terdampak yang kehilangan tempat tinggal saat wilayahnya diserbu pada Januari 2025. Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 260 orang tewas dalam kurun waktu dua bulan di kota pertanian tersebut.
"Saya menghabiskan 12 tahun membangun rumah itu. Sekarang saya tidak punya apa-apa lagi," ungkap Monique Methellus Paul, penjual sayur dari Kenscoff.
Kesulitan komunikasi menjadi salah satu pemicu utama kegagalan misi MSS sebelumnya karena perbedaan bahasa antara personel Kenya dengan warga lokal. Selain itu, jumlah personel yang tidak pernah mencapai target 2.500 anggota membuat pengamanan di lapangan menjadi tidak optimal.
GSF direncanakan memiliki kekuatan 5.500 personel yang terdiri dari gabungan polisi dan militer dengan kemampuan operasi intelijen independen. Saat ini, sebanyak 400 tentara asal Chad yang dipimpin jenderal angkatan darat Mongolia telah tiba sebagai pasukan gelombang pertama.
| Fitur | MSS (Lama) | GSF (Baru) |
|---|---|---|
| Jumlah Personel | Maksimal 2.500 | Target 5.500 |
| Komposisi | Dominan Polisi | Gabungan Polisi & Militer |
| Kewenangan | Mendukung Polisi Lokal | Operasi Independen & Intelijen |
Misi baru ini mendapatkan dukungan dana internasional mencapai lebih dari US$110 juta atau setara Rp1,9 triliun. Namun, koordinasi lapangan tetap menjadi perhatian serius bagi aparat penegak hukum setempat yang meragukan efektivitas pasukan asing dalam memahami dinamika sosial di Haiti.
"Masalah keamanan harus diselesaikan oleh orang Haiti sendiri. Saya tidak yakin pasukan baru ini akan mengubah keadaan jika koordinasi dan pemahaman lapangan tetap minim," pungkas seorang perwira polisi Haiti yang enggan disebutkan namanya.
Selain faktor keamanan, UNICEF mencatat peningkatan rekrutmen anak-anak oleh geng sebesar 200 persen di tengah kerawanan pangan parah. GSF ditargetkan dapat beroperasi secara penuh pada September mendatang untuk memulihkan jalur logistik yang saat ini lumpuh total.