PBB Sebut Jurnalisme Jadi Profesi Berisiko di Tengah Konflik Global

PBB Sebut Jurnalisme Jadi Profesi Berisiko di Tengah Konflik Global
Foto: Ilustrasi PBB Sebut Jurnalisme Jadi Profesi Berisiko di Tengah Konflik Global.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan pekerja media sebagai salah satu profesi paling berbahaya di dunia menyusul tingginya angka kekerasan di wilayah konflik. Berdasarkan laporan PBB yang dilansir dari Lestari, sebanyak 14 jurnalis telah dinyatakan tewas sepanjang tahun 2026 hingga Sabtu (2/5/2026).

Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, menyoroti situasi di Timur Tengah sebagai bukti nyata kerentanan para jurnalis. Ia menegaskan bahwa pembungkaman pers dilakukan melalui berbagai cara kekerasan fisik hingga penahanan.

"Jurnalisme saat ini telah menjadi profesi yang tidak aman dan, kadang-kadang berbahaya karena para pekerja media telah dibom di dalam mobil mereka, diculik dari kantor mereka, dibungkam di balik jeruji besi, dan dipecat dari pekerjaan mereka," ujar Turk dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).

Data PBB menunjukkan Lebanon menjadi negara paling mematikan bagi pekerja media pada tahun 2026. Sementara itu, konflik di Gaza tercatat telah menewaskan hampir 300 pekerja media sejak Oktober 2023 dengan penegakan hukum yang sangat minim terhadap para pelaku pembunuhan.

ÔÇ£Sejauh ini di tahun 2026, Lebanon adalah negara paling mematikan bagi pekerja media," imbuh Turk.

Selain ancaman fisik, para jurnalis juga menghadapi represi melalui regulasi hukum dan pengawasan teknologi. Turk menggarisbawahi serangan terhadap jurnalis Iran di luar negeri sebagai bentuk nyata dari pengawasan transnasional yang agresif.

ÔÇ£Saya sangat prihatin bahwa para pekerja media menjadi target utama represi dan pengawasan transnasional yang semakin meningkat yang paling baru terlihat dalam serangan terhadap jurnalis Iran di luar negeri,ÔÇØ sebut Turk.

PBB juga menemukan pola kekerasan daring yang menyasar tiga perempat jurnalis perempuan di seluruh dunia. Serangan digital ini mencakup kampanye fitnah dan ancaman kekerasan seksual yang mengancam integritas informasi publik.

ÔÇ£Serangan semacam ini berisiko menciptakan masyarakat yang dipenuhi disinformasi, di mana media terpaksa mengaburkan fakta agar dapat beroperasi dengan aman,ÔÇØ papar Turk.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memberikan penegasan serupa menjelang Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh pada Minggu (3/5/2026). Ia menyebutkan bahwa kebebasan pers saat ini berada di bawah tekanan ekonomi dan manipulasi aktif oleh pihak yang berkuasa.

"Tidak hanya dalam perang, tetapi di mana pun mereka yang berkuasa takut akan pengawasan. Namun, kebebasan pers juga berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena tekanan ekonomi, teknologi baru, dan manipulasi aktif," tutur Guterres.

Kondisi industri media semakin diperburuk oleh pemotongan anggaran dan konsentrasi kepemilikan yang memaksa banyak media lokal tutup. Meski demikian, banyak jurnalis dilaporkan tetap bekerja melaporkan berita dari lokasi berbahaya meski dalam keadaan terluka.

Artikel terkait

Rekomendasi