Paus Leo XIV Siap Rilis Ensiklik Pertama yang Menyoroti Etika Kecerdasan Buatan

Paus Leo XIV Siap Rilis Ensiklik Pertama yang Menyoroti Etika Kecerdasan Buatan
Foto: Ilustrasi Paus Leo XIV Siap Rilis Ensiklik Pertama yang Menyoroti Etika Kecerdasan Buatan.

Vatikan tengah bersiap menerbitkan surat edaran resmi atau ensiklik pertama dari Paus Leo XIV. Dokumen penting tersebut dipastikan bakal menyoroti perkembangan pesat teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Fokus utamanya menekankan pendekatan berbasis etika yang mengutamakan martabat manusia, hubungan sosial, serta perdamaian dunia, seperti dilansir dari Investor Daily.

Pejabat Vatikan mengungkapkan bahwa Paus Leo XIV menandatangani dokumen ini pada Sabtu (16/5/2026). Momen tersebut bertepatan dengan peringatan 135 tahun penandatanganan ensiklik legendaris "Rerum Novarum" (Tentang Hal-Hal Baru) oleh pendahulunya, Paus Leo XIII.

Jika Rerum Novarum dahulu membahas hak-hak buruh dan batasan kapitalisme di tengah Revolusi Industri, ensiklik baru ini hadir merespons Revolusi AI. Perkembangan teknologi tersebut kini dinilai membawa ancaman eksistensial yang serupa bagi peradaban.

"Gereja Katolik akan bertindak sebagai pihak yang dewasa di dalam ruangan debat mengenai cara kita mengintegrasikan AI ke masyarakat. Paus dipastikan akan menjadi salah satu pembela martabat manusia paling vokal dalam diskusi ini," ujar Meghan Sullivan.

Meghan Sullivan, yang merupakan profesor filsafat etika dari Universitas Notre Dame, menyampaikan hal tersebut seperti dikutip dari Associated Press pada Sabtu.

Penerbitan ensiklik ini diproyeksikan memicu titik ketegangan baru antara Paus Leo XIV, yang lahir di Chicago, dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Langkah Vatikan dinilai kontras dengan kebijakan pemerintahan Trump.

Pemerintah AS justru menempatkan percepatan pengembangan AI sebagai strategi vital untuk ekonomi dan keamanan nasional. Bahkan, pemerintahan Trump menghapus berbagai hambatan birokrasi demi mempercepat implementasi teknologi tersebut.

Penandatanganan dokumen Vatikan ini juga berlangsung tepat saat Trump menyelesaikan kunjungan bisnisnya di China. Dalam lawatan tersebut, Trump turut membawa sejumlah bos teknologi dunia.

Beberapa di antaranya adalah Elon Musk selaku pemilik chatbot AI Grok, serta Jensen Huang yang menjabat sebagai CEO Nvidia. Jensen Huang sendiri baru saja mendapatkan izin untuk mengekspor chip AI H200 ke China.

Vatikan gencar menyuarakan pandangannya sejak ledakan ChatGPT agar AI hanya digunakan sebagai alat pendukung. Lembaga tertinggi Gereja Katolik ini menolak AI dijadikan pengganti kecerdasan manusia, serta memperingatkan dampak lingkungan dari pusat data yang mengonsumsi energi dan air dalam jumlah masif.

Paus Leo XIV memiliki latar belakang pendidikan matematika dan dikenal paham teknologi. Ia mengkhawatirkan kemampuan AI generatif dalam memanipulasi kebenaran melalui citra rekayasa (deepfakes), bahkan melarang para pastor menggunakan AI untuk menulis khotbah di lingkungan internal gereja.

Sorotan Terhadap Senjata Otomatis di Wilayah Konflik

Isu perdamaian menjadi fokus utama lain bagi sang Paus di samping masalah sosial-ekonomi. Ia memberikan perhatian khusus terhadap bahaya penggunaan sistem senjata otomatis berbasis AI dalam konflik yang sedang bergejolak saat ini.

"What is happening in Ukraine, Gaza, the Palestinian territories, Lebanon, and Iran illustrates the inhuman evolution of the relationship between war and new technologies in a vortex of destruction," tegas Paus Leo XIV.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Paus Leo XIV saat berbicara di Universitas La Sapienza baru-baru ini, menyoroti situasi di Ukraina, Gaza, wilayah Palestina, Lebanon, dan Iran.

Keterlibatan aktif Vatikan dalam diskursus teknologi global sebenarnya telah dimulai sejak era kepemimpinan Paus Fransiskus. Pada 2020, Vatikan memelopori kesepakatan "Rome Call for AI Ethics" (Seruan Roma untuk Etika AI).

Piagam komitmen tersebut berhasil merangkul raksasa teknologi dunia seperti Microsoft, IBM, dan Cisco. Perusahaan-perusahaan tersebut berkomitmen menerapkan prinsip transparansi, inklusivitas, akuntabilitas, dan privasi dalam pengembangan algoritma.

Paus Fransiskus juga mengukir sejarah pada 2024 sebagai paus pertama yang menghadiri KTT G7 di Italia. Kehadirannya saat itu khusus untuk mendesak para pemimpin dunia agar melarang penggunaan senjata otonom mematikan (killer robots).

Langkah progresif tersebut kini dilanjutkan oleh Paus Leo XIV melalui format ensiklik yang merupakan dokumen dengan otoritas tertinggi dalam ajaran kepausan. Mengingat ada sekitar 1,5 miliar umat Katolik di dunia, dokumen ini berfungsi sebagai panduan moral sekaligus instrumen tekanan diplomatik global.

Kehadiran ensiklik ini diharapkan mampu mendorong regulasi AI internasional, seperti AI Act milik Uni Eropa atau arsitektur tata kelola PBB, agar tidak kalah oleh kepentingan pasar dan militer sepihak.

Artikel terkait

Rekomendasi