Sebuah patung Buddha bersejarah dari abad ke-13 akhirnya dikembalikan ke kuil asalnya di Kathmandu, Nepal, pada Jumat (1/5/2026). Prosesi pemulangan benda cagar budaya yang sempat hilang dicuri ini dilakukan dengan tandu khusus dan iringan musik tradisional bertepatan dengan festival Buddha Jayanti.
Sebagaimana dilansir dari Detik Travel, artefak berharga ini sempat dicuri dari kuil pada era 1980-an sebelum akhirnya ditemukan di Tibet House US, sebuah pusat kebudayaan di New York, Amerika Serikat. Penempatan kembali patung ke posisi semula baru terlaksana tahun ini meski benda tersebut sudah berada di Nepal sejak 2022.
Kehadiran kembali artefak religius ini disambut dengan sukacita oleh warga setempat yang selama masa kehilangan hanya menggunakan patung replika di kuil mereka. Sunkesari Shakya, salah satu umat yang hadir, mengungkapkan perasaan emosionalnya terkait kembalinya simbol suci tersebut.
"Saya merasa sangat bahagia, kami semua begitu," kata Sunkesari Shakya, salah seorang umat.
Shakya juga menceritakan bagaimana situasi masyarakat saat menyadari benda bersejarah tersebut hilang dari tempatnya puluhan tahun silam.
"kekacauan" di masyarakat setempat terjadi ketika patung itu dicuri.
Pemerintah Amerika Serikat turut memberikan perhatian khusus dalam prosesi pemulangan ini melalui kehadiran utusan resmi mereka. Sergio Gor, Utusan khusus Washington untuk Asia Selatan dan Asia Tengah, menegaskan komitmen negaranya untuk mengembalikan benda-benda bersejarah ke negara asal.
"Kami mencoba memperbaiki kesalahan dari masa lalu," ucap Sergio Gor, Utusan khusus Washington untuk Asia Selatan dan Asia Tengah.
Banyak kuil di Nepal saat ini dilaporkan dalam kondisi kosong akibat maraknya pencurian artefak sejak negara itu membuka diri pada 1950-an. Sejauh ini, sekitar 200 artefak berupa ukiran kayu, batu, lukisan, hingga kitab suci telah berhasil dikembalikan ke Nepal, dengan 41 di antaranya sudah dipasang kembali di lokasi asli.
Ahli konservasi setempat menekankan bahwa perjuangan untuk memulangkan ribuan artefak lainnya yang masih tersebar di luar negeri masih panjang. Rabindra Puri, seorang ahli konservasi, menyatakan bahwa benda-benda tersebut merupakan identitas budaya yang tidak ternilai harganya.
"Patung-patung ini bukan sekadar karya seni, melainkan bagian dari warisan yang hidup," tutur Rabindra Puri, Ahli konservasi.
Hingga saat ini, lebih dari 400 artefak telah terdaftar secara resmi sebagai benda hilang oleh otoritas terkait. Pemerintah Nepal terus melakukan upaya diplomasi untuk memulangkan sisa artefak yang diduga masih berada di pasar seni atau koleksi pribadi di Amerika Serikat, Prancis, Jerman, dan Inggris.