Proyeksi kelanjutan gejolak di pasar modal tanah air membayangi pelaku pasar menjelang pengumuman hasil penyusunan ulang atau rebalancing indeks Juni 2026 dari FTSE Russell yang dijadwalkan terbit pada Sabtu (23/5/2026) pukul 05.00 WIB, seperti dilansir dari Money.
Kekhawatiran terhadap munculnya tekanan baru pada pasar saham domestik mencuat setelah enam saham Indonesia sebelumnya tersingkir dari indeks Morgan Stanley Capital (MSCI).
Daftar awal penambahan dan penghapusan saham untuk rebalancing tersebut diterbitkan pada 22 Mei 2026 setelah pukul 18.00 Waktu Bagian Timur AS atau Sabtu pagi sekitar pukul 05.00 WIB menurut catatan Indo Premier Sekuritas.
Potensi penurunan kinerja pasar saham dinilai dapat memicu sentimen negatif pada pembukaan perdagangan Senin (25/5/2026) pekan depan jika lebih banyak saham Indonesia dikurangi bobotnya atau dihapus dari indeks global.
Langkah penundaan tinjauan penuh terhadap pasar Indonesia juga telah diambil oleh FTSE Russell setidaknya hingga September 2026 setelah sebelumnya menandai sejumlah saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
"Secara praktis, pasar tidak akan dapat bereaksi hingga pembukaan hari Senin. Itu memberi investor waktu akhir pekan untuk mencerna hasilnya, baik atau buruk. Setelah MSCI secara brutal menyingkirkan enam saham dari Indeks Standar minggu lalu, ekspektasi sudah rendah," demikian ulasan Indo Premier, Jumat (22/5/2026).
Pemberian sentimen positif baru bagi pasar domestik berpeluang terjadi apabila FTSE Russell mengambil keputusan yang lebih moderat serta tidak terlalu agresif terhadap saham-saham dalam negeri.
Investor ritel kini diingatkan untuk terus mencermati pengumuman tersebut karena hasilnya sangat menentukan arah pergerakan pasar pada awal pekan depan.
"Jika hasilnya lebih buruk dari yang diharapkan, seperti yang terjadi pada MSCI, pembukaan hari Senin bisa menjadi sesi yang sulit lagi. Jika FTSE menunjukkan pengekangan, itu mungkin memberikan katalis positif sejati pertama yang dilihat pasar Indonesia dalam beberapa minggu terakhir. Bagaimanapun, pasang alarm untuk Sabtu pagi," lanjut Indo Premier.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dipastikan keluar dari indeks FTSE setelah masuk ke dalam daftar HSC berdasarkan riset dari Maybank Sekuritas.
"Saham DSSA dipastikan keluar setelah masuk ke dalam HSC list, sementara sejumlah saham Indonesia lainnya juga berisiko mengalami pengurangan bobot maupun penghapusan dari indeks FTSE," tulis Maybank Sekuritas.
Peningkatan transparansi pasar dan pemberian informasi tambahan bagi investor dilakukan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan merilis daftar saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi per 31 Maret 2026.
Sembilan emiten tercatat memiliki tingkat kepemilikan oleh kelompok tertentu di atas 95 persen berdasarkan data resmi BEI.
| Nama Emiten | Kode Saham | Persentase Kepemilikan (%) |
|---|---|---|
| PT Lima Dua Lima Tiga Tbk | LUCY | 95,47 |
| PT Samator Indo Gas Tbk | AGII | 97,75 |
| PT Satria Mega Kencana Tbk | SOTS | 98,35 |
| PT Ifishdeco Tbk | IFSH | 99,77 |
| PT Panca Anugrah Wisesa Tbk | MGLV | 95,94 |
| PT Rockfields Properti Indonesia Tbk | ROCK | 99,85 |
| PT Abadi Lestari Indonesia Tbk | RLCO | 95,35 |
| PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | DSSA | 95,76 |
| PT Barito Renewables Energy Tbk | BREN | 97,31 |