Sektor properti tanah air memperlihatkan performa yang solid pada periode awal tahun ini. Meskipun dibayangi oleh gejolak ekonomi dunia dan perubahan cuaca, pasar tetap mampu bertahan menghadapi dinamika musiman.
Dikutip dari Suara, rumah dengan kategori tipe kecil dan menengah tampil sebagai motor penggerak utama. Tingginya permintaan pada segmen ini dipicu oleh kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal dasar yang memiliki harga ekonomis.
Indeks Harga Jual Rumah Nasional terpantau tidak banyak bergerak, dengan koreksi yang sangat tipis sebesar -0,1 persen. Penurunan tersebut terjadi baik secara kuartalan maupun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
CEO Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, menjelaskan bahwa pertumbuhan positif justru masih ditemukan pada kategori hunian menengah ke bawah. Faktor keterjangkauan menjadi alasan utama konsumen tetap memburu unit di segmen ini.
"Segmen rumah kecil dan menengah menjadi penopang pertumbuhan pasar, didorong oleh keterjangkauan dan kebutuhan hunian dasar yang menjaga permintaan tetap stabil," kata Dayu Dara Permata.
Berdasarkan data statistik, rumah Tipe Ôëñ54 mengalami kenaikan sebesar 0,3 persen secara kuartalan dan tumbuh 1 persen dalam skala tahunan. Sementara itu, rumah Tipe 121ÔÇô200 juga mencatatkan peningkatan sebesar 0,5 persen secara kuartalan.
Tren ini menandakan bahwa prioritas masyarakat saat ini bergeser pada fungsionalitas dan kesesuaian harga. Konsumen cenderung lebih selektif dan berhati-hati sebelum memutuskan untuk melakukan transaksi pembelian properti.
"Data terbaru Indeks Harga Jual Rumah Nasional pada kuartal 1 tahun 2026 menunjukkan kondisi relatif stabil dengan penurunan tipis sebesar -0,1% baik secara kuartalan maupun tahunan," ujar Dayu Dara Permata.
Koreksi pada Segmen Hunian Premium
Kondisi berbeda terlihat pada pasar rumah mewah atau Tipe 201 yang sedang menghadapi tekanan cukup signifikan. Segmen ini tercatat mengalami penurunan nilai sebesar -0,5 persen secara kuartalan dan terpangkas -0,7 persen secara tahunan.
Fenomena ini mengindikasikan adanya sikap waspada dari kalangan investor dan pembeli di pasar premium. Ketidakpastian situasi global, termasuk konflik di wilayah Timur Tengah, menjadi salah satu pemicu utama melambatnya minat investasi.
"Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian di pasar premium, dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global akibat eskalasi ketegangan di Timur Tengah serta faktor cuaca," kata Dayu Dara Permata.
Secara keseluruhan, pasar properti nasional masih bergerak dinamis meski terdapat perbedaan performa antar segmen. Ketahanan industri ini sangat bergantung pada kemampuan pasar dalam menyediakan hunian yang sesuai dengan daya beli masyarakat luas.