Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) menyepakati penambahan produksi minyak mentah sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Juni 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi global yang terdampak oleh konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Keputusan tersebut diumumkan pada Minggu (3/5/2026) oleh kelompok yang kini terdiri dari tujuh produsen utama setelah Uni Emirat Arab resmi keluar dari organisasi pada 1 Mei. Dilansir dari Ekonomi, volume peningkatan produksi pada Juni mendatang tercatat lebih rendah dibandingkan penambahan pada Mei yang mencapai 206.000 bph.
Tujuh negara yang terlibat dalam kesepakatan penyesuaian produksi ini meliputi Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Penambahan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan kelompok tersebut dalam merespons dinamika pasar minyak dunia yang fluktuatif.
"Dalam komitmen kolektif untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188.000 barel per hari dari tambahan penyesuaian sukarela yang diumumkan pada April 2023," tulis OPEC dalam pernyataannya.
Stabilitas pasokan dunia saat ini berada di bawah tekanan besar sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari yang menyebabkan penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute vital bagi distribusi minyak dan gas global yang kini praktis tidak dapat dilalui secara efektif.
Chief Executive Officer (CEO) Exxon Mobil, Darren Woods, menilai bahwa pasar saat ini belum sepenuhnya mengantisipasi dampak jangka panjang dari penutupan jalur strategis tersebut. Ia memperingatkan potensi lonjakan harga jika gangguan terus berlanjut tanpa solusi pembukaan jalur pelayaran.
"Jelas bagi banyak pihak bahwa jika melihat gangguan pasokan minyak dan gas alam dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya, pasar belum melihat dampak penuhnya," ujar Woods.
Menurut Woods, dampak penutupan Selat Hormuz selama sebulan pertama konflik masih dapat diredam berkat kapal tanker yang sudah berlayar lebih awal serta pelepasan cadangan minyak strategis. Namun, ia menegaskan bahwa sumber pasokan darurat dan persediaan komersial tersebut memiliki batas waktu pemakaian.
Tekanan pada harga energi diprediksi akan semakin meningkat secara signifikan apabila jalur pelayaran utama di kawasan tersebut tetap tertutup dalam waktu lama. Kondisi ini membuat kebijakan produksi OPEC+ menjadi faktor krusial dalam menjaga keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan stok global.