Aliansi produsen minyak OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari pada Juni 2026 guna menjaga stabilitas pasar. Kebijakan ini merupakan peningkatan kuota bulanan ketiga secara berturut-turut yang diambil di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Keputusan tersebut melibatkan tujuh negara anggota utama, yakni Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman. Penambahan volume produksi ini dilakukan saat kondisi distribusi energi global terhambat akibat blokade jalur laut yang krusial bagi ekspor minyak mentah.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sejak 28 Februari 2026 telah memicu penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada arus pengiriman. Dilansir dari Money, hambatan logistik ini mengganggu ekspor dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait.
Uni Emirat Arab telah resmi meninggalkan keanggotaan OPEC+ sejak 1 Mei 2026, sehingga organisasi tersebut kini beranggotakan 21 negara. Meskipun terdapat kenaikan kuota, realisasi pengiriman di lapangan dilaporkan belum sepenuhnya pulih karena pemulihan Selat Hormuz yang berjalan lambat.
Data dari Money menunjukkan harga minyak mentah dunia sempat melonjak hingga 125 dollar AS per barel, mencatatkan angka tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran para analis akan risiko kelangkaan bahan bakar pesawat serta peningkatan tekanan inflasi secara global.
Produksi minyak mentah pada Maret 2026 tercatat sebesar 35,06 juta barel per hari, atau turun drastis 7,7 juta barel dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh gangguan infrastruktur energi di Rusia akibat serangan drone serta kendala teknis pada jalur ekspor di kawasan Teluk.