Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa mayoritas bank digital di Indonesia telah bergeser dari strategi pertumbuhan agresif menuju fase pencapaian laba berkelanjutan pada awal Mei 2026. Pergeseran ini ditandai dengan rasio profitabilitas bank digital yang kini telah melampaui rata-rata industri perbankan nasional.
Dilansir dari Finansial, data per Maret 2026 menunjukkan Return on Assets (ROA) bank digital berada di angka 2,87 persen, sementara ROA industri hanya 2,50 persen. Rasio Net Interest Margin (NIM) sektor ini pun tercatat sangat kuat pada level 13,90 persen, jauh di atas NIM industri sebesar 4,49 persen.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa kekuatan pendapatan bunga bank digital saat ini didorong oleh NIM yang mencapai tiga kali lipat rata-rata industri. Hal ini mengindikasikan adanya perbaikan fundamental pada struktur efisiensi dan kualitas kredit perbankan digital.
ÔÇ£Ini menjadi titik penting ketika sejumlah bank digital mulai menunjukkan perbaikan laba, efisiensi operasional, penurunan cost of fund, dan kualitas kredit yang lebih terjaga,ÔÇØ kata Dian kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (3/5/2026).
Dian menambahkan bahwa para pelaku industri kini mulai melakukan monetisasi ekosistem dan penguatan dana murah (CASA) alih-alih terus membebankan biaya tinggi untuk akuisisi nasabah baru. Meskipun demikian, stabilitas perolehan laba antar bank digital masih menunjukkan variasi yang cukup beragam.
ÔÇ£Dengan kata lain, industri sedang bertransisi dari growth-first ke sustainable growth,ÔÇØ ujarnya.
Kondisi transisi menuju model bisnis yang matang ini tercermin pada kinerja PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) yang fokus pada pertumbuhan kualitas aset. Sepanjang tahun 2025, bank ini secara konsisten membukukan laba bersih yang menyentuh angka Rp565,69 miliar.
Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, menyatakan bahwa perusahaan akan tetap mengejar penambahan jumlah nasabah aktif dan penyaluran kredit secara selektif. Upaya ini dibarengi dengan penguatan manajemen risiko demi menjaga keberlanjutan profit perusahaan ke depan.
ÔÇ£Fokus utama kami adalah menjaga momentum pertumbuhan berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta memastikan profitabilitas yang berkelanjutan,ÔÇØ ungkap Eri kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (3/5/2026).